GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Keluaran 24:1-18 (bg. 1, Senin 28)

Keluaran 24 merupakan bagian yang penting sebagai kisah yang menyaksikan umat Israel diikat hubungannya dengan Tuhan, dan juga bagaimana mereka dibentuk oleh Allah sebagai suatu bangsa.
  1. Ay. 15-18: Peristiwa awan yang menutupi gunung Sinai menjadi peristiwa yang luar biasa bagi Musa. Mengapa demikian? Apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh Musa, apakah hanya sekadar awan?
  2. Ay. 2, 9-11: Mengapa hanya Musa yang boleh naik ke gunung? Apa yang menjadi penekanan Allah dari peraturan ini: kualitas pribadi Musa atau kualitas pribadi Allah?
    Mari kembali mengingat masa lalu seorang Musa. Bacalah ayat-ayat berikut ini: 2:11-12, 15; 3:4-5; 3:11-12; 4:10. Adakah keunggulan Musa yang membuat dia pantas/layak untuk naik ke gunung Sinai?
  3. Mari mengingat tentang bangsa Israel. Bacalah ayat-ayat berikut ini: 6:6-7; Ulangan 7:6-8. Adakah keunggulan bangsa Israel yang membuat mereka diizinkan untuk menikmati pernyataan kemuliaan Allah (ay.17)?
  4. Merenungkan tentang peristiwa penyataan kemuliaan Allah di gunung Sinai dan Musa/bangsa Israel yang dipilihNya, pelajaran apa yang bisa Anda dapatkan tentang Allah dan tentang diri Anda sendiri?

Renungan
Ibarat matahari, saat ia bersinar maka akan terungkap bagian-bagian bumi di belahan lain yang gelap karena tidak mendapat sinarnya. Demikian pula dengan kemuliaan Allah, saat kita merenungkan kemuliaan Allah, kita mendapati kemuliaanNya begitu bersinar terang dan mengagungkan, yang sekaligus menunjukkan betapa jauhnya hidup kita dari standard kemuliaan Allah. Namun kenyataan ini tidaklah membuat kita terpuruk dalam kegelapan hidup kita dan menjadi putus asa serta menjauh dari Allah karena merasa tidak layak, melainkan membuat kita menyadari bahwa kemuliaan Allah itu melingkupi hidup kita sehingga kita mampu memancarkan kemuliaan Allah. Seperti seorang Musa yang hanya manusia biasa - memiliki kesalahan di masa lalu dan bergumul dengan segala kelemahannya sebagai seorang pemimpin bangsa yang besar – namun dipanggil oleh Allah sendiri untuk naik ke gunung, masuk dan berdiam dalam kemuliaan Allah. Demikian juga bangsa Israel yang tidak memiliki keunggulan yang membuat Allah lebih memilih mereka, selain karena Allah sendiri yang mau mengikat perjanjian dengan mereka. Peristiwa di gunung Sinai ini mengingatkan kita bahwa pada saat seseorang berhasil memancarkan kemuliaan Allah dalam hidupnya, itu semua karena Allah saja yang telah memulainya terlebih dahulu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat memancarkan kemuliaan Allah dengan sendirinya, dengan kekuatannya sendiri. Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa akan sangat bertentangan bila orang dapat hidup dengan kudus (memancarkan kemuliaan Allah) namun menyombongkan diri atas segala kekudusan hidupnya dan memandang hina orang yang tidak bisa menjadi seperti dirinya.

Kemuliaan Allah sanggup menyorot langsung kegelapan hidup kita dan menembus kedalaman diri kita yang paling tidak mulia untuk masuk dalam kemuliaanNya