GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Kejadian 2:15-17; 3:1-7 (Kamis, 7)

Kejadian 3:1 menghadirkan tokoh baru, yaitu ular yang juga menandai dibukanya babak baru dari narasi mengenai penciptaan yang dituliskan di sini. Namun, bagian ini harus dibaca dengan memperhatikan pasal 1 dan 2 sebagai latar belakangnya. Tuhan telah menciptakan alam semesta seluruhnya dengan kualitas “baik”. Dan semua yang baik itu diberikan kepada manusia. Termasuk taman Eden yang mahaindah, dengan pohon-pohon yang dapat mereka nikmati buahnya.
  1. Kej. 2:15-17. Bandingkanlah larangan yang diberikan Tuhan kepada manusia dengan kebebasan yang bisa dinikmati oleh manusia. Menurut Anda, apakah larangan itu terlalu berat untuk ditaati?
  2. Kej. 3:1. Ular diperkenalkan sebagai yang paling cerdik dari segala binatang. Hal apakah yang menunjukkan kecerdikan ular itu?
  3. Kej. 3:2-6. Menurut Anda, faktor-faktor apa sajakah yang membuat perempuan itu tertipu oleh ular yang cerdik itu? Sebutkan minimal empat hal.
  4. Kej. 3:7. Setelah melanggar larangan Tuhan, apa yang terjadi kepada manusia? Apakah hal ini sesuai dengan apa yang mereka harapkan sebelumnya?

Renungan
selain diberi kebebasan menikmati semua buah pohon yang ada dalam taman itu, manusia juga harus diwajibkan menaati larangan memakan buah salah satu pohon yang ada di tengah-tengah taman, yang disebut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Mengingat semua kebaikan yang telah mereka terima dari Tuhan, larangan makan buah dari salah satu pohon itu seharusnya tidak mengurangi kebahagiaan mereka. Mereka masih bisa tetap hidup dan menikmati buah dari semua pohon yang lain.
Namun, manusia jatuh dalam dosa bukan karena Tuhan kurang baik kepada mereka, melainkan karena mereka ingin mendapat lebih dari yang mereka nikmati sekarang. Buah yang ditawarkan ular itu nampak begitu sedap dan khasiatnya pun menarik. Tentu saja ada faktor yang lebih penting. Perempuan itu ternyata begitu mudah dan cepat menyingkirkan firman Tuhan yang melarang mereka memakan buah pohon itu. Padahal, cukup jelas bahwa larangan itu sangat penting untuk mereka pegang. Hanya dengan dua kalimat, ular yang cerdik mampu menjauhkan manusia dari firman Tuhan yang penting itu. Lagipula, perempuan itu tidak mendapat dukungan yang baik dari suaminya, yang pada waktu itu bersama-sama dengan dia.
Ketika memakan buah itu tentu manusia juga mengharapkan khasiat yang dijanjikan oleh si ular. Namun, apa yang terjadi kemudian menunjukkan betapa naif manusia yang mengharapkan khasiat seperti itu. Manusia yang berharap menjadi seperti Allah justru terusir dari hadirat Allah dan kehilangan kemuliaan Allah. Padahal manusia sebelumnya sudah “seperti Allah” karena manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Ketika mereka mendapat pengetahuan, mata mereka terbuka, maka hal yang pertama kali mereka lihat adalah ketelanjangan mereka sendiri. Sebutan ular sebagai binatang “yang paling cerdik” sebenarnya merupakan sindirian tajam kepada kebodohan manusia.
(TW)

Dosa lebih sering terjadi bukan karena keadaan yang memaksa, melainkan karena kebodohan manusia.