GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Mazmur 32:1-11 (Minggu, 10)

Nama Daud memang disebut/ ditambahkan dalam judul mazmur ini. Namun sebenarnya kita tidak perlu mencari peristiwa tertentu dalam kehidupan Daud untuk kita gunakan sebagai latar belakang mazmur ini. Dari isinya sudah cukup jelas bahwa mazmur ini merekam rasa syukur dan sukacita dari seseorang yang memperoleh pengampunan dosa, setelah sekian lama tersiksa secara batin karena tidak mau mengakui dosa-dosanya. Setiap orang – termasuk kita semua – sangat mungkin mempunyai pengalaman yang sama. Meski digolongkan sebagai doa pengucapan syukur, mazmur ini juga mengandung nilai pengajaran yang penting di beberapa bagiannya.
  1. Siapakah orang yang disebut berbahagia di sini? (ay.1-2) Apa artinya ‘tidak berjiwa penipu’ ? (ay.2b, bandingkan dengan Amsal 24:8)
  2. Pemazmur juga mengungkapkan pergumulannya ketika ia menyembunyikan dosanya. Apa yang dirasakannya pada waktu itu? (ay.3-4) Agar bebas dari tekanan berat itu, apa yang dilakukan pemazmur? (ay.5)
  3. Apa nasihat pemazmur bagi kita semua yang sedang bergumul dengan dosa? (ay.6-7)
  4. Pemazmur juga membagikan pengajaran yang diterimanya dari Tuhan yang telah mengampuni dosanya. Apa isi nasihat Tuhan kepadanya? (ay.8-9) Siapakah yang digambarkan seperti kuda atau bagal yang tidak berakal di ayat ini?

Renungan
Ungkapan bahagia dan sukacita sangat menonjol karena digunakan sebagai pembuka dan penutup mazmur ini. Bahagia dan sukacita yang dimaksud pemazmur tidak hanya menyangkut aspek emosional (perasaan), namun juga memiliki nuansa sipiritual (rohani). Bahagia dan sukacita ini lahir dari hati seorang yang telah melewati pergumulan yang hebat menghadapi dosa-dosanya.
Orang yang berbahagia, menurut pemazmur, bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan orang yang telah diampuni dosa-dosanya. Orang yang berbahagia bukanlah orang yang berpura-pura tidak berdosa, melainkan orang yang jujur mengakui dosa-dosanya.
Dari pengalaman pemazmur bergumul dengan dosa, paling sedikit ada dua hal yang hendak diajarkannya kepada kita. Pertama, daripada menyembunyikan dosa, lebih baik kita mengakui dosa kita. Bila kita terus menyembunyikan dosa, rasa bersalah dan rasa takut akan menekan kita. Bila kita mengakui dosa kita, kita akan merasakan kebahagiaan karena mendapatkan pengampunan dosa. Pemazmur juga mendorong kita untuk mengaku dosa selagi masih ada kesempatan (atau, selagi Allah masih dapat ditemui). Kasih Allah memang tidak terbatas, namun kesempatan kita sangatlah yang terbatas.
Kedua, setelah dosa kita diampuni, hendaknya kita hidup mengikuti jalan yang Allah tunjukkan kepada kita. Bukan seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang tidak dapat mengendalikan dirinya. Pengakuan dan permohonan ampun yang tulus harus disertai dengan keseriusan untuk mengendalikan diri. Dengan cara itulah kita dapat menikmati sukacita hidup sebagai orang-orang benar. Banyak orang telah menikmati kasih karunia Tuhan, namun dengan bodoh membuangnya begitu saja dan kembali lagi kepada dosa-dosanya. Bagaimana dengan Anda? (TW)

Dosa sering diawali dengan kebodohan, dan diulangi kembali dengan kebodohan yang lebih besar.