GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Yunus 1: 1-17 (Senin,3)


Niniwe adalah ibukota kerajaan Asyur. Kerajaan Asyur adalah musuh besar Kerajaan Israel. Yunus, yang sangat mengasihi negerinya Israel, tentu juga menganggap Asyur sebagai musuhnya. Namun, Tuhan justru menyuruh Yunus pergi ke kota Niniwe dan berkhotbah di sana agar mereka bertobat dari kejahatan mereka. Namun, rupanya Yunus tidak setuju dengan rencana Tuhan ini. Bagi Yunus penduduk kota Niniwe sebaiknya dihukum dan dibinasakan saja , bukan dilayani dan dibimbing hingga bertobat.
  1. Ay. 1-3. Cobalah temukan di seluruh bacaan hari ini, berapa kali dituliskan anak kalimat ”jauh dari hadapan Tuhan”? Apa yang hendak ditegaskan melalui anak kalimat ini?
  2. Ay. 4-6. Apa yang dilakukan Yunus ketika seluruh awak kapal ketakutan karena badai?
  3. Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan Yunus dalam situasi tersebut?
  4. Ay.7-16. Perubahan apakah yang terjadi pada para awak kapal setelah pengalaman melewati badai itu? (bandingkan ayat 5 dan ayat 16).
  5. Ay. 17. Menurut Anda, mengapa Tuhan memasukkan Yunus ke dalam perut ikan?
  6. Melalui pengalaman di atas, apa yang hendak Tuhan ajarkan kepada Yunus?

Renungan
Yunus adalah seorang nabi yang pandai dan pemberani. Namun, semua itu tidak cukup untuk melayani Tuhan dengan baik. Tuhan masih harus mengajarkan dua hal penting bagi Yunus. Pertama, ketaatan. Yunus menolak pergi ke Niniwe karena perintah Tuhan itu tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Yunus menolak perintah Tuhan karena tidak mampu menghilangkan kebencian dan sikap permusuhannya kepada orang-orang Asyur. Namun,demikian Tuhan justru menunjukkan kesabarannya untuk mengajar Yunus tentang ketaatan.
Upaya Yunus untuk melarikan diri dari hadapan Tuhan sungguh luar biasa. Dari kota pelabuhan Yofa seharusnya Yunus berlajar ke arah timur, ke kota Niniwe yang jaraknya sekitar 800 Km dari sana. Namun Yunus justru berlayar menuju kota Tarsis yang jaraknya sekitar 3000 Km ke arah barat. Itulah sebabnya sampai tiga kali disebutkan bahwa Yunus berusaha melarikan diri ”jauh dari hadapan Tuhan” (ay. 3a, 3b dan 10). Namun, ternyata Tuhan tidak pernah jauh dari Yunus.
Hal kedua yang perlu dipelajari Yunus adalah kerendahan hati. Ketika seluruh awak kapal merasa ketakutan, seharusnya Yunus berusaha menenangkan mereka dan mengajak mereka berdoa. Namun, Yunus justru memilih untuk tidur nyenyak dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Meski demikian, para awak kapal yang sebelumnya berseru kepada allah mereka (ay.5), sekarang berseru kepada Tuhan (ay.16). Para awak kapal itu mengenal Tuhan dan menyembah Tuhan, meski tanpa pelayanan khotbah seorang Yunus.
Jika di dalam diri seseorang terdapat kepandaian segaligus keberanian, maka sikap yang akan cenderung muncul adalah keangkuhan atau kesombongan. Dengan sikap demikian tidaklah mungkin seseorang melayani Tuhan dengan baik. Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan kerendahan hati kepada Yunus.
Apakah kita semua juga masih perlu berlajar mengenai ketaatan dan kerendahan hati? Ya, tentu saja. (TW)

Terhadap manusia yang jatuh dalam dosa Tuhan lebih menghendaki terjadinya pertobatan daripada menjatuhkan hukuman kepadanya.