GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Kisah Para Rasul 1:1-5, 12-14 (Senin, 28)

Dari Kisah Para Rasul 1:1-2a kita tahu bahwa buku ini merupakan lanjutan dari buku pertama yang mencatat segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus sampai Ia terangkat ke sorga. Buku pertama yang dimaksudkan adalah Injil Lukas, yang juga dituliskan bagi Teofilus (Lukas 1:1-4).
  1. Ay. 1-2a. Jika dihubungkan dengan buku yang pertama, apa tujuan Lukas menuliskan semua itu kepada Teofilus (lihat Lukas 1:4; bandingkan juga dengan Yohanes 20:30-31).
  2. Ay. 2b-3. Apa yang menjadi bukti/ dasar bagi Lukas untuk menyimpulkan bahwa Yesus hidup? Dari manakah Lukas mendapatkan informasi mengenai hal tersebut? (lihat juga Lukas 1:2-3). Apa kesimpulan Anda mengenai cara Lukas menuliskan Injilnya?
  3. Ay. 4-5, 12-14. Apa perintah Yesus kepada para murid-Nya? Apa yang harus mereka nantikan? Apakah para murid melakukan apa yang diperintahkan Yesus? Dengan cara bagaimanakah mereka menantikan janji Bapa tersebut?
  4. Melalui bacaan hari ini, apa yang dapat kita pelajari tentang kebenaran Injil? Apa yang dapat kita pelajari tentang janji Tuhan kepada umat-Nya?

Renungan
Karena Lukas menuliskan Kisah Para Rasul ini sebagai lanjutan dari bukunya yang pertama, yaitu Injil Lukas, maka dapat dipastikan bahwa Lukas juga menulis dengan tujuan yang sama: ”supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk 1:4). Artinya, Lukas tidak sembarangan menulis. Dia akan mencari informasi dari sumber terbaik dan menyajikannya secara sistematis.
Demikian pula kesimpulan, “bahwa Ia hidup,” bukan kesimpulan yang secara sembarangan diambil. Selama empat puluh hari Yesus berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara dengan para murid-Nya. Para murid ini adalah saksi mata dan pelayan firman yang menjadi sumber informasi bagi Lukas (Luk 1:2). Itulah sebabnya Lukas juga dapat menceritakan bagaimana kehidupan para murid menjelang dan setelah kenaikan Yesus ke sorga.
Perintah Yesus kepada para murid-Nya pun direkam dengan jelas. Yesus menyuruh mereka tetap tinggal di Yerusalem, menantikan janji Bapa, yaitu bahwa mereka akan “dibaptis dengan Roh Kudus’. Mereka pun tinggal di Yerusalem. Namun, lebih daripada itu, kita perlu memperhatikan sikap dan cara mereka menantikan janji Tuhan. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Cara ini ternyata menjadi model dalam ibadah gereja mula-mula (lihat Kis 2:42). Perhatikan pula bahwa kaum perempuan juga terlibat dalam ibadah ini. Model yang sederhana ini juga dapat Anda terapkan di dalam ibadah keluarga Anda. Sudahkah Anda melakukannya? (TW)

Janji dan anugerah Tuhan bagi keluarga Anda tak cukup hanya didengar dengan telinga. Libatkanlah seluruh anggota keluarga Anda untuk bertekun dengan sehati dan berdoa bersama.