GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Mazmur 8:1-10 (Minggu, 18)

Berdasarkan isinya, Mazmur ini digolongkan sebagai psalm of creation (mazmur tentang penciptaan). Memang, membaca mazmur ini akan mengingatkan kita kepada penciptaan alam semesta yang dipaparkan di Kejadian 1. Namun cukuplah jelas bahwa tujuan pemazmur bukan hanya mengajak kita mengagumi alam semesta ciptaan-Nya, melainkan memuliakan Tuhan sang Pencipta.
  1. Ay. 2-3. Apa yang dikatakan mengenai Tuhan dalam dua ayat ini? Mengapa bayi dan anak-anak disebutkan di bagian ini?
  2. Ay. 4-5. Bandingkan dengan Ayub 7:17. Ayat-ayat itu mengungkapkan perasaan pemazmur ketika melihat keagungan alam semesta. Menurut Anda, perasaan apa yang terungkap di sini?
  3. Ay. 6-9. Apa yang diungkapkan pemazmur mengenai manusia? Perasaan apa yang terungkap di sini? Apa hubungannya dengan ayat 4-5 di atas? (perhatikan bahwa bagian ini dimulai dengan kata ”namun”)
  4. Ay.10. Kesimpulan apa yang disampaikan di sini?
  5. Menurut Anda, apa yang mendorong pemazmur memuliakan nama Tuhan: a) keagungan Tuhan sebagai Pencipta, atau b) kasih Tuhan kepada manusia?

Renungan
Bayi-bayi dan anak-anak yang masih menyusu adalah sosok-sosok manusia yang paling lemah. Namun demikian mereka adalah sosok-sosok manusia yang paling bersukacita. Tidak seperti kita, orang-orang dewasa yang sering dicekam rasa takut dan kuatir mengenai “musuh-musuh” kita: sakit-penyakit, kekurangan, ketidakberdayaan, dan penolakan. Karena itulah kita diajak belajar dari bayi-bayi dan anak-anak yang masih menyusu. Kendati adalah sosok-sosok manusia yang paling lemah, mereka tetap memancarkan kemuliaan Tuhan.
Selain melalui bayi-bayi dan anak-anak yang masih menyusu, kita juga diajak melihat kemuliaan Tuhan melalui keagungan alam semesta ciptaan-Nya dan membandingkannya dengan keberadaan kita sebagai manusia. Seperti bayi-bayi dan anak-anak yang masih menyusu, betapa kecil dan lemah manusia dibandingkan jagad raya. Namun, justru melalui kesadaran seperti itu kita pun melihat betapa besar kasih-Nya kepada manusia. Manusia, ciptaan yang kecil di alam semesta, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Manusia, mahluk yang lemah di muka bumi, diberi kekuasaan atas semua mahluk ciptaan-Nya.
Melihat keagungan Tuhan sebagai Pencipta jagad raya, tentu lebih dari cukup untuk menggerakkan bibir kita untuk memuji kebesaran-Nya. Apalagi bila kita merenungkan kasih Tuhan kepada manusia. Sungguh keterlaluan bila hati kita tidak tergerak untuk memuliakan nama-Nya. Ironisnya, kita justru menjadi mahluk yang paling sering dicekam oleh berbagai ketakutan dan kekuatiran. Kita sering menganggap diri kita sebagai mahluk yang paling malang di bumi, bukan sebagai mahluk yang paling dikasihi Tuhan. Itulah sebabnya kita sulit untuk berseru, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi.” Cobalah melihat betapa besar kasih Tuhan kepada Anda hari ini, dan nyatakanlah kemuliaan-Nya dengan hati dan mulut Anda.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22)