GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

1 Tesalonika 4:13-18 (Rabu, 12)

Topik mengenai akhir zaman merupakan bagian dari khotbah dan pengajaran yang telah populer sejak gereja purba. Paulus juga mengangkat topik ini dalam pekabaran Injil yang dilakukannya (lihat misalnya, Kis 17:31). Topik ini – khususnya mengenai parousia, yaitu kedatangan Yesus yang kedua kali – rupanya menjadi pokok pembicaraan hangat dalam jemaat Tesalonika. Itulah sebabnya Paulus menyinggung topik tersebut di beberapa bagian awal dari surat ini (1 Tes 1:10; 2:19; 3:13). Dalam bacaan kita hari ini Paulus memberikan penjelasan lebih rinci tentang hal ini. Paulus mendengar bahwa di jemaat Tesalonika terdapat kesalahpahaman mengenai parousia.
1. Ay. 13-15. Kesalahpahaman yang beredar di jemaat Tesalonika terkait dengan orang-orang yang telah meninggal. Apa yang dikatakan Paulus tentang keberadaan orang-orang yang telah meninggal?
2. Ay. 16-17. Apa yang akan terjadi dengan mereka pada waktu kedatangan Yesus yang kedua?
3. Ay. 18. Mengapa Paulus menyuruh mereka saling menghiburkan? (lihat ay.13b) Menurut Anda, apa yang harus mereka lakukan agar dapat saling menghiburkan?
4. Kesalahpahaman mengenai ajaran (atau teologi) juga masih terjadi pada jemaat Kristen masa kini, dan berdampak buruk dalam kehidupan pribadi maupun hidup bergereja. Berikanlah beberapa contohnya. Menurut Anda, bagaimana mengatasinya?

Renungan:

Pengajaran tentang kedatangan Yesus yang kedua sangat berkesan bagi orang-orang Tesalonika. Mereka menantikan-nantikan saat yang penuh kemuliaan itu. Namun, ketika memikirkan ”nasib” orang-orang yang telah meninggal sebelum parousia itu, mereka menjadi sedih. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang telah meninggal sebelum parousia akan kehilangan kesempatan untuk menikmati saat-saat yang penuh kebahagiaan itu. Benarkah demikian?
Paulus dengan tegas mengoreksi kesalahpahaman mereka. Orang-orang yang telah meninggal tidak selama-lamanya terbaring dalam kubur. Mereka akan dibangkitkan dan hidup bersama-sama dengan Kristus. Begitu juga pada waktu kedatangan-Nya yang kedua, mereka juga ikut ambil bagian dalam peristiwa yang agung ini. Bahkan, kata Paulus, orang-orang yang masih hidup pada waktu parousia tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
Kesalahpahaman pengajaran ternyata bisa menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan berjemaat maupun kehidupan pribadi kita. Orang-orang di Tesalonika sedih dan gelisah untuk alasan yang salah. Hal ini juga bisa terjadi pada jemaat masa kini. Bagaimana mengatasinya? Pertama, peranan seorang teolog (seperti Paulus) dalam meluruskan pengajaran yang beredar di kalangan jemaat sangatlah penting. Kedua, antar anggota jemaat sendiri juga harus mampu saling menguatkan dan menghiburkan. Dengan kata lain, setiap anggota jemaat juga harus peduli terhadap pengajaran yang beredar di dalam jemaat. Agar dapat berperan seperti itu tentu diperlukan kesediaan dan kesungguhan untuk belajar, belajar,dan belajar. Anda mau? (TW)

Jika Anda tidak ingin diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan di zaman ini, maka teruslah belajar agar semakin mengenal kebenaran-Nya.