GOD SAID...
Dont’t look to the bigness of your need
Look to the bigness of your GOD!
Your circumstances are hindrances to seeing MY ABILITIES
If you keep your eyes on your circumstances,
the devil will use your circumstances to defeat you
and accuse the Word of GOD...
the written and the Living Word.
YOUR VICTORY
is in keeping your eyes
on the bigness of your GOD and His ability
HE HAS PROMISED
to take you STEP by STEP... not all at once...
But step...by step and...
each step will be a MIRACLE!
-Morris Cerullo World Evangelism-

Kejadian 24: 1-9 (lanjutan; Selasa 1 Juli)

  1. Ayat 2-4: Apakah penekanan dari isi sumpah yang diminta Abraham dari hambanya tersebut? Mengapa hal itu begitu penting bagi Abraham? (Ingatlah bahasan renungan kemarin).
  2. Ayat 5: Kesulitan apakah yang muncul dalam pikiran hamba Abraham itu?
  3. Ayat 6-9: Bagaimana Abraham memecahkan masalah yang diungkapkan oleh hamba tersebut?
  4. Bacalah pasal 17:9 dan hubungkan dengan ayat bacaan hari ini. Dalam hal apa keteladanan Abraham sangat menonjol bagi kita?

Renungan
Siapa yang akan menjadi pasangan hidup Ishak merupakan hal yang sangat penting bagi Abraham karena perjanjian yang sudah Allah buat denganNya. Keturunan Abraham adalah bagian dari perjanjian tersebut. Alasan itulah yang membuat Abraham sangat berhati-hati dalam memilih istri yang tepat bagi Ishak. Karena itu Abraham mengambil sumpah bagi hamba yang diutus untuk mencari calon istri bagi Ishak dengan prinsip satu iman yang menjadi prinsip dasar dari semua keputusan yang nantinya dibuat. Abraham melarang mengambil perempuan Kanaan karena mereka adalah para penyembah berhala dan sudah jelas itu sesuatu yang bertentangan dengan Allah yang Abraham sembah. Selanjutnya Abraham juga melarang hambanya untuk mencari calon istri yang membuat Ishak nantinya akan keluar dari negeri yang dijanjikan Allah. Melalui sikap dan cara-cara Abraham mengambil keputusan mengenai calon istri bagi Ishak, kita bisa melihat ada teladan yang luar biasa dari diri Abraham dalam hal kesetiaannya berpegang teguh pada perjanjian dengan Allah. Abraham menyadari bahwa pemenuhan janji Allah kepadanya terkait erat dengan ketaatannya pada Tuhan dan perjanjian itu sendiri. Walau Abraham mengenal dengan baik bahwa Allahnya adalah Allah yang setia dengan janjiNya, namun keyakinan tersebut sama sekali tidak membuat Abraham mengabaikan tanggung jawab pribadinya untuk hidup dalam ketaatan. Orang-orang Kristen memang tidak sulit untuk mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yang tepat janji, Allah yang setia pada janjiNya’ namun sangat disayangkan karena ternyata banyak orang Kristen yang hanya menggembar-gemborkan keyakinan tersebut tetapi melupakan tanggung jawab pribadinya untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan yang sama pada Allah. Menuntut Allah setia, tetapi tidak menuntut dirinya untuk setia pada Allah; menuntut Allah memenuhi janjiNya, tetapi tidak menuntut dirinya untuk memenuhi janji-janjinya pada Allah. Mari belajar dari Abraham yang sudah mengingatkan kita hari ini untuk menunjukkan kesetiaan yang sama kepada Allah, sama seperti kerinduan kita untuk terus merasakan kasih setia Allah dalam hidup kita.


Manusia cenderung mengejar bukti kasih setia Allah baginya, tetapi jarang bertanya kepada dirinya sendiri bagaimanakah bukti kasih setianya kepada Allah.

Kejadian 24: 1-9 (Senin, 30)

Perikop ini merupakan kisah panjang pencarian pasangan hidup bagi Ishak, putra Abraham. Dalam beberapa hari ini kita akan banyak belajar dari peristiwa ini, baik dari Abraham maupun hambanya.
  1. Ayat 1: Apa alasan Abraham merasa sudah waktunya untuk mencari calon istri bagi Ishak?
  2. Bacalah pasal 17: 7-8 dan kaitkan dengan pasal 24: 2-4. Mengapa persoalan siapa yang akan menjadi pasangan hidup Ishak menjadi urusan yang sangat penting bagi Abraham?
  3. Berdasarkan pengalaman Abraham di bacaan hari ini, bagaimana seharusnya orang Kristen memaknai peranan seorang pasangan hidup bagi pasangannya?

Renungan
Abraham menyadari bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan hidupnya mungkin sudah tidak lama lagi. Sudah tiba saatnya untuk menyiapkan calon istri bagi putranya. Terkait dengan apa yang sudah kita baca di pasal 17: 7-8, perjanjian yang Allah buat dengan Abraham berlaku dan mengikat hingga keturunan-keturunan Abraham. Karena itu, siapa yang akan menjadi calon istri Ishak tidak boleh sembarang orang. Dengan demikian, kita bisa melihat bagaimana Abraham memaknai pentingnya peranan pasangan hidup anaknya kelak haruslah seseorang yang dapat diandalkan, dipercaya menjadi partner putranya dalam menerima janji-janji Allah dan sekaligus partner dalam melakukan kehendak Allah sesuai perjanjian tersebut. Walau pengalaman Abraham terjadi dalam konteks yang sangat khusus dan berbeda dengan kita sekarang, namun ada prinsip-prinsip yang bisa kita tarik keluar untuk kita yang hidup sekarang. Pasangan hidup adalah rekan hidup kita dalam menerima janji-janji Allah dan melakukan kehendakNya. Karena itu pemilihannya tidak boleh dengan asal-asalan. Baik suami maupun istri sama-sama memegang tanggung jawab untuk menjalankan peran tersebut dengan optimal dalam keluarga yang sudah dibangunnya. Suami menjadi teladan ketaatan pada Allah bagi istrinya, dan demikian pula sebaliknya. Jika peranan tersebut tidak dijalankan dengan baik, maka pasti akan ada kesulitan yang timbul dalam hubungan keluarga tersebut. Sebaliknya, ketika keduanya menjalankan peran dengan baik, penggenapan janji-janji Allah akan semakin terasa seiring dengan kekompakan pasangan suami istri membangun ketaatan pada Allah.

Menjadi garam dan terang dunia dimulai dengan menjadi garam dan terang bagi orang-orang terdekat

Mazmur 13:1-6 (Minggu, 29)

Bila setiap ayat dalam Alkitab terwujud dengan segera, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk percaya kepada firman-Nya. Bila setiap kalimat doa kita terkabul dengan cepat, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk bersandar kepada-Nya. Namun, kenyataannya tidak demikian, bukan? Ada saat-saat di mana doa kita seakan-akan berlalu tanpa jawaban, sedangkan campur tangan Tuhan tak kunjung datang. Situasi seperti itulah yang rupanya sedang dihadapi oleh penulis mazmur ini.
  1. Ay. 2-3. Perasaan apa sajakah yang ada di dalam hati pemazmur pada waktu itu? Apa yang membuatnya merasa demikian?
  2. Ay. 4-5. Permohonan apa yang dipanjatkan oleh pemazmur? Apa arti permohonannya, ”Buatlah mataku bercahaya”?
  3. Ay. 6. Mazmur ini ditutup dengan pengakuan iman dan puji-pujian. Apa isi pengakuan imannya? Apa isi puji-pujian yang dipanjatkannya?
  4. Sama seperti pemazmur ini, setiap orang beriman juga mungkin bergumul dengan penderitaan yang berkepanjangan. Dalam situasi seperti itu, sikap apa sajakah yang diajarkan oleh mazmur ini?

Renungan
Tidak salah mengungkapkan isi hati dan perasaan kita kepada Tuhan. Itulah yang dilakukan pemazmur ketika harus menghadapi situasi yang sukar dan penderitaan yang panjang. Dengan terus terang pemazmur mengakui bahwa dia merasa kesepian (terlupakan), kuatir, sedih, dan takut (terancam oleh musuhnya). Apa yang menyebabkan penderitaan berat ini? Istilah ”musuh”memang bisa ditafsirkan secara hurufiah. Artinya, orang-orang yang membenci dan menindasnya. Namun, istilah musuh sering juga digunakan sebagai kata kiasan yang berarti penyakit yang parah. Apapun bentuk dan penyebab penderitaannya, pemazmur telah lama bergumul dan berdoa mengenai hal ini. Itulah sebabnya dia bertanya, ”Berapa lama lagi . . ..”
”Tuhan, segera singkirkanlah musuh-musuhku!” atau Tuhan sembuhkan aku dari sakit-penyakit ini!” Mungkin itu adalah bentuk-bentuk doa semacam itulah yang akan kita panjatkan kepada Tuhan dalam situasi tersebut. Namun, pemazmur ini justru berdoa agar Tuhan membuat matanya bercahaya. Artinya, agar dia tetap bersukacita dan bersemangat menghadapi penderitaannya. Pemazmur memohon Tuhan memberikan kekuatan kepadanya agar dia tidak goyah menghadapi ”musuh-musuhnya”. Apa yang membuat pemazmur sanggup memanjatkan doa semacam itu. Jawabnya terletak pada pengakuan iman yang tertulis di ayat 6, ”Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya.” Bahkan, pemazmur masih tetap sanggup memuji Tuhan.
Dari mazmur ini, kita bisa melihat beberapa ”jurus” ampuh untuk menghadapi penderitaan yang panjang. Pertama, kita boleh mengungkapkan perasaan kita kepada Tuhan. Kedua, pertolongan Tuhan tidak selalu berbentuk kesembuhan atas sakit penyakit atau solusi atas persoalan kita. Pertolongan Tuhan juga dapat berupa semangat dan kekuatan untuk menghadapi penderitaan itu. Ketiga, iman kita kepada Tuhan merupakan modal utama untuk menghadapi penderitaan secara dewasa. Keempat, kita tidak perlu kehilangan sukacita kita meski penderitaan belum segera berlalu. (TW)


Penderitaan yang sedang Anda hadapi tidak dapat menghapuskan kenyataan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepada Anda.

Matius 11:2-19 (Sabtu, 28)

Bagaimana sikap dan tanggapan Anda ketika mendengar firman Tuhan yang diuraikan di dalam khotbah? Atau yang Anda baca sendiri dalam Alkitab? Adakalanya kita dapat mendengarkan dan menerima firman Tuhan itu dengan mudah. Namun, sering pula terjadi, firman Tuhan tidak dengan mudah kita terima. Bahkan, seorang tokoh sehebat Yohanes Pembaptis masih bertanya kepada-Nya, ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
  1. Ay. 2-3. Lihatlah kembali peran dan pelayanan Yohanes Pembaptis di Matius 3:1-3. Menurut Anda, mengapa Yohanes masih mempertanyakan apakah Yesus itu Mesias atau bukan?
  2. Ay. 4-5. Bagaimana Yesus meyakinkan Yohanes Pembaptis? (bandingkan dengan Yesaya 35:5-6 dan 61:1) Perhatikan peringatan di ayat 6. Kepada siapakah peringatan ini diberikan? Mengapa Yesus memberikan peringatan seperti ini?
  3. Ay.7-15. Yesus memberikan kesaksian-Nya mengenai makna pelayanan Yohanes Pembaptis. Apa tujuan Yesus menguraikan semua ini? Kepada siapakah peringatan di ayat 15 itu ditujukan?
  4. Ay. 16-19. Kalimat-kalimat Yesus ini menggambarkan sikap mereka pada umumnya ketika mendengar pemberitaan Injil. Apakah sikap seperti ini juga masih terjadi pada masa kini? Menurut Anda, mengapa?

Renungan
Pertanyaan Yohanes Pembaptis sangat mungkin berhubungan dengan situasinya pada saat itu. Setelah masuk penjara, Yohanes sadar bahwa dia tidak bisa lagi tampil memberitakan Injil. Pertanyaan di atas tentunya penting untuk meneguhkan hatinya bahwa tugas dan peranannya – sebagai nabi yang mempersiapkan kedatangan Mesias – memang sudah selesai. Pertanyaan itu mungkin juga diajukan Yohanes demi kepentingan para muridnya. Murid-muridnya juga perlu tahu dan percaya bahwa Yesus memang Mesias yang mereka nantikan. Mereka perlu penegasan ini agar mereka tidak kecewa (melihat apa yang terjadi pada Yohanes) dan kemudian menolak Yesus.
Yesus menjawab Yohanes dengan jawaban yang sederhana namun tepat sasaran. Yesus mengajak Yohanes melihat bahwa semua mujizat yang dilakukan-Nya merupakan penggenapan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian Yohanes dan para muridnya tahu bahwa Yesus memang Mesias yang telah mereka nantikan.
Setelah meneguhkan iman Yohanes dan para muridnya, sekarang Yesus meneguhkan berbicara kepada orang banyak di sekitar-Nya. Yesus mengingatkan mereka kepada apa pelayanan Yohanes yang luar biasa. Namun Yesus mengingatkan bahwa sesungguhnya Yohanes lebih dari pada seorang nabi (ay.9-10). Yesus adalah utusan khusus yang mempersiapkan kedatangan Mesias di tengah umat-Nya. Yohanes memang seorang pengkhotbah yang hebat dan menarik perhatian banyak orang. Namun, yang terpenting dalam hal ini bukanlah kehebatan si pengkhotbah, melainkan Siapa yang diberitakannya.
Peringatan Yesus sangat cocok dengan kondisi kekristenan masa kini. Banyak orang tertarik hanya pada kehebatan si pengkhotbah, namun tidak pernah memberikan tanggapan serius terhadap Siapa yang dikhotbahkan. (TW)

Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku. (Matius 11:6)

Matius 10:40-11:1 (Jumat, 27)

Haruskah setiap orang Kristen terlibat dalam pemberitaan Injil? Jawaban untuk pertanyaan ini sangat jelas: Ya! Namun, mengapa pada kenyataannya banyak orang Kristen tidak terlibat karena merasa tidak mampu melakukannya. Padahal, tidak semua orang Kristen harus menjadi seorang missionari yang pergi ke pedesaan atau pedalaman. Tidak semua orang harus menjadi seorang pendeta atau penatua. Keterlibatan memberitakan Injil dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana terhadap orang-orang di sekitar kita.
  1. Ay. 40. Kalimat ini dikatakan Yesus kepada para murid-Nya (lihat 11:1). Mengapa Yesus mengatakan hal ini kepada mereka? Apa arti ”menyambut” di ayat ini? Siapakah yang akan menyambut para murid Yesus?
  2. Ay. 41. Apa yang dimaksudkan dengan “upah seorang nabi” di sini? (lihat 1 Raj 17:8-24; 2 Raj 4:8-37) Apa tujuan Yesus menyampaikan hal ini?
  3. Ay. 42. Dari menyambut para murid, lalu menyambut seorang nabi, dan sekarang menyambut ”seorang yang kecil” (bandingkan dengan Mat 18:6,10,14). Apa hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya?
  4. Apakah Anda sudah terlibat dalam pemberitaan Injil? Apa bentuknya? Jika belum, lakukanlah sesuatu untuk melibatkan diri Anda dalam pemberitaan Injil.

Renungan
Apa yang tertulis di pasal 11:1 menjelaskan bahwa kalimat-kalimat dalam pasal 10:40-42 merupakan pesan Yesus kepada para murid-Nya yang diberikan dalam rangka pemberitaan Injil. Pesan itu tentu sangat penting untuk menyemangati para murid yang diutus untuk memberitakan Injil. Mereka tidak perlu kuatir bila Yesus melaksanakan tugas pengutusan itu. Mereka akan bertemu dengan orang-orang yang menyambut mereka. Harapan Yesus ini bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Orang Yahudi mempunyai kebiasaan baik dalam memperlakukan setiap orang yang singgah di rumah mereka. Mereka tentu juga akan menyambut para murid yang datang ke rumah mereka. Perlu diperhatikan bahwa kata ”menyambut” di sini juga berarti menerima apa yang mereka ajarkan. Jadi, para murid tidak perlu takut atau pesimis dengan tugas pengutusan yang akan mereka laksanakan.
Selain ditujukan kepada para murid, kalimat Yesus juga ditujukan kepada siapa saja yang bersedia menyambut para pemberita Injil ini. Mereka yang menyambut seorang nabi akan memperoleh upah seorang nabi. Orang Yahudi tentu ingat apa yang terjadi pada janda Sarfat yang dengan ramah menyambut Elia. Atau kepada seorang janda nabi dan seorang perempuan dari Sunem yang juga bersikap ramah terhadap Elisa.
Menyambut para nabi adalah sebuah kebiasaan baik yang sudah mereka kenal sejak dahulu. Namun, sebagai aplikasinya, Yesus mengajak mereka mulai mempraktekkan keramahtamahan ini dalam tindakan sederhana: memberikan secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil. Seorang yang kecil di ayat ini bisa berarti hurufiah, yaitu anak kecil. Namun, dalam bentuk yang lebih luas bisa bermakna sosial, yaitu mereka yang diremehkan di masyarakat. Keramahtamahan merupakan bagian penting dari pemberitaan Injil. Dan hal itu dapat dimulai dengan menyambut ”orang-orang kecil” yang ada di sekitar kita. (TW)


Keterlibatan dalam pemberitaan Injil ternyata dapat dimulai dengan kebaikan-kebaikan sederhana terhadap orang-orang kecil di sekitar kita.

Roma 6:15-23 (Kamis, 26)

Dalam renungan kemarin kita telah mempelajari bahwa kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus telah menjamin kemenangan kita. Karenanya, kasih karunia itu menjadi sumber pengharapan dan pendorong semangat kita untuk lebih sungguh-sungguh melawan dosa. Namun, seperti dikuatirkan oleh Paulus di ayat 15, kasih karunia itu bisa disalahpahami atau bahkan disalahgunakan oleh orang-orang Kristen. Mereka yang tahu bahwa dirinya telah bebas dari hukum Taurat dapat beranggapan bahwa perintah dan larangan hukum Taurat tidak perlu lagi dilaksanakan. Sebaliknya, kasih karunia yang diberikan Kristus bisa membuat mereka merasa ”aman” sehingga boleh tetap berbuat dosa. Bolehkah kita berpikir demikian? Sekali-kali tidak!
  1. Ay. 16-18. Sambil menegaskan kembali status kita yang baru, Paulus memberikan penjelasannya dengan menggunakan ilustrasi hubungan antara hamba dan tuannya. Status baru apakah yang kita miliki? (ay.18) Apa hubungan status baru tersebut dengan kehidupan kita sehari-hari? (ay.16-17)
  2. Ay. 19-23. Apa yang akan kita dapatkan bila menyerahkan diri sebagai hamba dosa? Apa yang akan kita dapatkan bila menyerahkan diri sebagai hamba kebenaran?
  3. Sebagian orang Kristen memilih bersikap mendua, menjadi hamba Allah sekaligus menjadi hamba dosa. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? Bagaimana bacaan hari ini berbicara mengenai hal tersebut?

Renungan
Orang-orang Kristen sering lupa atau bahkan tidak peduli dengan status barunya sebagai hamba kebenaran. Padahal kesadaran mengenai status baru ini sangat mempengaruhi sikap dan arah hidup kita. Menyadari status baru itu berarti menyadari siapa tuan kita yang sesungguhnya. Seorang hamba menyerahkan diri kepada tuannya, menggunakan hidupnya untuk tuannya, mengikuti pimpinan tuannya, dan melakukan apa yang diajarkan oleh tuannya. Mereka yang menjadi hamba dosa mengunakan hidupnya untuk dosa dan terus-menerus belajar berbuat dosa. Orang-orang Kristen yang telah menjadi hamba kebenaran harus menggunakan hidupnya untuk kebenaran dan mentaati pengajaran kebenaran.
Entah mengapa kita lebih suka menyerahkan diri menjadi hamba dosa. Padahal, kita tahu dan mungkin pernah mengalami, bahwa menyerahkan diri menjadi hamba dosa berarti menyengsarakan diri sendiri: membawa kepada kedurhakaan, membuat kita merasa malu, dan berujung pada kematian. Sebaliknya, kita juga tahu, bahwa menyerahkan diri sebagai hamba kebenaran akan membawa kita pada pengudusan, merdeka dari dosa, dan berujung pada hidup yang kekal. Pilihan bagi kita? Memang. Allah telah memilih Anda. Sekarang, apakah Anda juga memilih Dia?
Hal penting yang juga terungkap dari perikop ini adalah bahwa kita tidak bisa bersikap mendua. Tidak ada pilihan untuk bersikap netral. Juga, Anda tidak bisa bersikap pasif. Anda harus memilih siapa tuan Anda. Anda harus memutuskan kepada siapa Anda akan menyerahkan diri Anda, kepada Allah atau kepada dosa. Jika Anda mengenal kasih karunia-Nya, Anda tentu tahu kepada siapa Anda harus menyerahkan diri. (TW)

Meremehkan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus adalah dosa paling serius dalam kehidupan umat kristiani masa kini.

Roma 6:12-14 (Rabu, 25)

Dalam renungan dua hari yang lalu kita telah belajar bahwa tidak mudah menyerahkan sesuatu yang penting bagi kita, yang kita kasihi dan yang kita peroleh dengan susah payah. Hari ini kita akan belajar bentuk penyerahan lainnya yang lebih sulit namun lebih penting, yaitu menyerahkan diri kepada Allah. Apa artinya? Dan mengapa menyerahkan diri kepada Tuhan sangat penting bagi kita? Kita akan mempelajarinya dari bacaan pendek dari surat Roma ini.
  1. Ayat-ayat 12-14 tidak harus dibaca dalam hubungannya dengan keseluruhan perikop, yaitu Roma 6:1-14. Bacalah seluruh bagian tersebut dan cobalah simpulkan topik apa yang sedang dibicarakan di sini?
  2. Ayat 12. Ayat ini apa yang dapat kita pelajari mengenai dosa, tubuh kita, dan perbuatan kita (menuruti keinginannya). Apa hubungan antara ketiga hal tersebut?
  3. Ayat 13. Menurut Anda, apa artinya istilah “menyerahkan” di ayat ini? Mengapa kita harus menyerahkan diri kita kepada Allah? Apa artinya “menjadi senjata kebenaran”?
  4. Ayat 14. Apa perbedaan antara mereka yang hidup di bawah hukum Taurat dan mereka yang hidup di bawah kasih karunia? (lihat Roma 4:15-16) Apa yang dimaksudkan sebagai kasih karunia di sini? (lihat Roma 5:17)
  5. Sebutkan salah satu keputusan atau sikap atau tindakan dalam hidup Anda sendiri yang merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Apa dampak dari penyerahan diri tersebut terhadap keseluruhan hidup Anda?

Renungan

Dalam keseluruhan perikop ini (6:1-14) Paulus membicarakan dampak kematian dan kebangkitan Kristus bagi perjuangan kita melawan dosa. Kematian dan kebangkitan Kristus memberikan pengharapan baru bagi pergumulan manusia melawan dosa. Memang, dosa masih tetap merupakan musuh besar kita. Namun, kini kita dapat menghadapinya dengan pengharapan yang baru, bukan dengan keputus-asaan. Apa yang telah dilakukan Kristus dan apa dampaknya bagi kita telah diungkapkan di ayat 1-11. Sekarang, dalam ayat 12-14 Paulus menguraikan apa yang harus kita lakukan sebagai bagian kita.
Mula-mula Paulus menjelaskan hubungan antara dosa, tubuh, dan keinginan (yang kemudian menghasilkan perbuatan dosa). Perbuatan dosa terjadi karena kita menuruti keinginan tubuh yang dikuasai oleh dosa. Dapatkah hal ini dicegah? Ya. Kata ”hendaklah” merupakan perintah bagi kita, dan itu berarti kita bisa ambil bagian dalam hal ini. Kematian dan kebangkitan Kristus telah membebaskan kita dari dosa. Namun, kematian dan kebangkitan Kristus tidak berdampak nyata alam hidup kita bila kita membiarkan dosa tetap merajalela dalam tubuh kita.
Metode melawan dosa bukanlah metode yang pasif. Agar tidak lagi menyerahkan diri kepada dosa, kita harus melakukan yang sebaliknya: menyerahkan diri kepada Allah. Paulus menyusun kalimat di ayat 13 dengan cara yang menarik. Anak kalimat ”menyerahkan diri anggota-anggota tubuhmu kepada dosa” merujuk pada sesuatu yang biasa kita lakukan di masa lalu, sedangkan anak kalimat ”serahkanlah dirimu kepada Allah” merujuk pada sebuah kebiasaan yang baru. (TW)

Sesudah mengenal kasih karunia Allah, kita harus menghadapi dosa dengan cara yang berbeda: lebih gigih dan lebih berpengharapan.

Kejadian 22:15-19 (Selasa, 24)

Seperti yang kita pelajari dalam renungan kemarin, belajar taat kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, sebagaimana sering terjadi dalam hidup Anda juga, kita tidak menjalani proses belajar itu seorang diri. Dalam proses belajar tersebut Tuhan selalu menolong kita. Dia menuntun dalam setiap tahap, memberikan dukungan ketika kita bergumul hebat, dan memberikan ”hadiah” ketika kita berhasil memperoleh kemajuan. Perikop bacaan kita hari ini menceritakan apa yang Tuhan lakukan setelah Abraham berhasil melewati ujian ketaatan tersebut.
  1. Ay. 15-16. Mengapa seruan Malaikat Tuhan ini disebut sebagai yang “kedua kalinya”? Kapan yang dimaksud sebagai seruan yang pertama? Apa hubungan seruan yang pertama dan yang kedua?
  2. Ay. 17-18. Berkat yang diberikan Tuhan bukanlah berkat yang baru, melainkan janji yang sebelumnya juga sudah pernah beberapa kali disampaikan kepada Abraham (lihat Kej 12:2-3; 13:16; 15:5; 17:2 dan 18:18). Bagaimana perasaan Abraham ketika mendengarkannya sekali lagi? Menurut Anda, mengapa Tuhan mengulangi janji berkat tersebut sekali lagi?
  3. Ketika kita belajar taat kepada Tuhan, dengan berbagai cara Tuhan menolong kita melalui proses belajar tersebut. Pernahkah Anda mengalami hal ini? Menurut Anda, apa yang Tuhan hendak ajarkan kepada Anda dalam peristiwa tersebut? Bagikanlah pengalaman itu kepada beberapa orang di sekitar Anda.

Renungan
Seruan Malaikat Tuhan di ayat 15 disebut sebagai yang ”kedua kalinya” karena memang berhubungan erat dengan seruan pertama di ayat 11-12. Dua kali seruan Malaikat Tuhan ini merupakan tanggapan sekaligus dukungan Tuhan terhadap ketaatan Abraham terhadap firman-Nya. Pada seruan yang pertama Tuhan menghargai sikap Abraham sebagai seorang yang ”takut akan Allah” dan disusul dengan pernyataan kasih-Nya kepada Abraham dengan menyediakan domba sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Pada seruan yang kedua Tuhan sekali lagi memuji sikap Abraham, lalu disusul dengan pengulangan janji berkat yang sebelumnya pernah diberikan kepada Abraham.
Apakah Abraham tidak bosan mendengarkan janji Tuhan yang telah berulang kali disampaikan itu? Wajar bila Anda berpikir demikian. Namun, patut diperhatikan bahwa setiap pengulangan janji itu selalu tekait dengan suatu peristiwa atau pengalaman iman tertentu dalam kehidupan Abraham. Janji itu memang diulang-ulang, tetapi dalam situasi yang berbeda. Pengulangan janji itu bukanlah sekadar pengulangan, namun menandai setiap kemajuan dalam pertumbuhan iman Abraham. Dengan demikian kita perlu menghubungkan pengulangan janji itu dengan keberhasilan Abraham melewati ujian imannya. Ada pelajaran penting yang dapat kita petik di sini. Jjanji berkat yang disediakan Tuhan menuntut respon Abraham, yaitu ketaatan. Ketaatan Abraham merupakan langkah maju untuk semakin dekat dengan janji itu. Tanpa ketaatan, realisasi janji tidak akan mengalami kemajuan dalam hidup Abraham. (TW)

Berkat Tuhan dapat ditampung hanya oleh sebuah wadah yang tepat, yaitu hati yang taat.

Kejadian 22:1-14 (Senin, 23)

Salah satu ciri kedewasaan iman Kristen adalah ketaatan kepada firman-Nya. Namun, ini bukanlah sesuatu yang mudah diwujudkan. Mungkin kemauan untuk taat memang ada di dalam hati kita, namun kita sering tidak rela membayar harganya. Selain perlu kemauan, ketaatan memang perlu kerelaan berkorban. Belajar rela berkorban bukanlah sebuah proses yang mudah. Namun, proses seperti ini sangat penting untuk mendewasakan iman kita. Karena itu kita akan belajar proses tersebut dari Abraham yang juga dikenal sebagai bapa orang percaya.
  1. Ay. 1-2. Perhatikan dengan baik kalimat yang diucapkan Allah kepada Abraham (mengenai Ishak, apa yang harus dilakukan kepadanya, dan di mana pengorbanan itu akan dilakukan). Hal apa sajakah yang membuat perintah ini sulit dilakukan oleh Abraham?
  2. Ay. 3-10. Menurut Anda, perasaan apa saja yang ada di dalam hati Abraham sewaktu melakukan semua ini? Apa yang dapat kita pelajari dari jawaban Abraham atas pertanyaan Ishak di ayat 7-8.
  3. Ay. 11-14. Atas ketaatan Abraham, Tuhan memberikan ”hadiah” kepadanya. Hadiah apa saja yang diberikan Tuhan kepada Abraham?
  4. Dalam hidup Anda, hal apa yang paling sulit membuat Anda taat kepada Allah? Buatlah sebuah komitmen untuk meningkatkan ketaatan Anda kepada firman-Nya.

Renungan
Tujuan dari semua peristiwa ini, yaitu untuk ”mencoba Abraham”, memang diberitahukan kepada kita para pembaca (ay.1). Namun, kepada tidak kepada Abraham. Abraham hanya mendapatkan sebuah perintah yang sangat sulit dilakukan: mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran. Dalam perintah-Nya, Tuhan sendiri bahkan menyebutkan bahwa Ishak adalah anak tunggal Abraham dan Abraham sangat mengasihinya. Dan seperti kita tahu, Abraham mendapatkan Ishak melalui sebuah penantian dan pergumulan yang sangat panjang. Sungguh tidak mudah merelakan sesuatu yang penting di dalam hidup kita, yang sangat kita kasihi, dan yang kita peroleh dengan susah payah. Bagi Abraham, Ishak memenuhi ketiga kriteria tersebut.
Tentu saja Abraham bergumul dengan hebat. Kebungkaman Abraham mungkin dapat mewakili campur-aduk perasaannya. Bingung dan sedih. Mungkin Abraham juga bertanya di dalam pikirannya, ”Mengapa harus Ishak, ya Tuhan?” Namun, bagaimanapun perasaan di dalam hatinya dan apapun pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, Abraham mengambil keputusan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Hal yang sama mungkin juga terjadi dalam hidup Anda. Firman Tuhan harus dilakukan dengan dengan perasaan yang bercampur-aduk. Ketaatan adalah sebuah keputusan, sekaligus perjuangan melawan berbagai macam perasaan dan pemikiran. Dan Abraham pun keluar sebagai pemenang.
Meski berat, perjuangan untuk taat kepada firman Tuhan tidak pernah menjadi sebuah perjuangan yang sia-sia. Tuhan langsung memberikan ”hadiah” bagi ketaatan Abraham. Pertama, Tuhan memuji Abraham sebagai seorang yang takut akan Allah. Kedua, Tuhan menyediakan domba sebagai korban bakaran menggantikan anaknya. Dan, hadiah terpenting dari keseluruhan proses ini, Abraham semakin mengenal Tuhan.

Hadiah terbaik dari sebuah ketaatan adalah pengenalan yang semakin dalam akan Tuhan.

Kejadian 21: 8-21 (Minggu, 22)

Kehadiran Ismael dilihat oleh Sara sebagai ancaman bagi Ishak. Karena itu Sara meminta Abraham untuk mengusir Hagar dan anak yang dilahirkan Hagar bagi Abraham.
  1. Ayat 11: Bagaimana reaksi Abraham terhadap permintaan Sara?
  2. Ayat 12-14: Apa yang membuat Abraham menjadi tidak kesal lagi dan berani membiarkan Hagar pergi?
  3. Ayat 15-16: Bagaimana keadaan Hagar dan putranya?
  4. Ayat 17-21: Apa yang membuat Hagar berubah menjadi tegar dan sanggup bertahan hidup?
  5. Dari perubahan yang terjadi pada diri Abraham dan Hagar, apa yang bisa Anda pelajari mengenai kehidupan orang-orang percaya dalam menghadapi kesulitan hidupnya?

Renungan
Abraham kesal dengan permintaan Sara untuk mengusir Hagar dan Ismael, namun Abraham harus mendengarkan Sara karena apa yang dikatakan Sara benar, bahwa yang menjadi ahli waris Abraham adalah Ishak. Sebuah permintaan yang sulit tentunya bagi Abraham karena bagaimanapun juga Ismael adalah anaknya juga. Rasa kesal, takut dan bimbang bercampur jadi satu. Namun semuanya menjadi berubah setelah Allah berfirman “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; ... sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.” Keesokan harinya Abraham menjadi tegar dan berani membiarkan Hagar dan Ismael pergi karena Abraham percaya pada pemeliharaan Allah atas hamba dan anaknya itu. Tidak berbeda dengan Hagar yang begitu putus asa dan sudah menyerah dengan keadaannya yang buruk dalam pengembaraan di padang gurung. Pada akhirnya Hagar menjadi kuat dan sanggup menjalani kehidupannya setelah ia percaya kepada firman Tuhan melalui malaikat yang datang kepadanya dan berkata, “Jangan takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring...”
Melalui pengalaman dua tokoh ini kita dapat melihat ada perubahan yang nyata dalam sikap dan cara mereka menghadapi kesulitan, setelah mendengar firman Allah yang disampaikan kepada mereka. Dengan kata lain, Abraham dan Hagar bukan hanya percaya kepada Allah dan firmanNya, tetapi juga mempercayakan hidup dan masa depannya kepada Allah sesuai apa yang sudah mereka dengar dari firmanNya. Walau Abraham tetap harus menyaksikan Hagar dan Ismael pergi, Abraham tetap kuat dan percaya bahwa Allah juga memelihara mereka. Walau Hagar masih tetap harus melanjutkan hidup di padang gurun, Hagar kuat dan tidak putus asa lagi karena berpegang pada firman Allah yang ia percaya. Walau kesulitan hidup kita tidak secara otomatis berubah menjadi jauh dari kita pada saat kita percaya kepada Allah dan firmanNya, namun kita yang berubah menjadi lebih kuat dan sabar karena hidup yang kita percayakan kepada Allah.



Firman Allah bukan hanya untuk didengar dan dipercayai, tetapi juga untuk dihidupi

Kejadian 21: 1-7 (Sabtu, 21)

  1. Ayat 1-2: Sebutkan 3 (tiga) perkara yang Allah lakukan pada Abraham dan Sara!
  2. Seperti yang sudah Anda sebutkan, di ayat 1-2 memang terjadi pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali tentang peranan Allah dalam peristiwa kelahiran Ishak. Menurut Anda, apa pentingnya pengulangan tersebut?
  3. Ayat 5 & 7: Kapan Abraham dan Sara mempunyai Ishak? Menurut Anda, apa pentingnya disebutkan umur Abraham (ay.5) dan kondisi Sara (ay.7) bila dikaitkan dengan peranan Allah yang disebutkan di ayat 1-2?
  4. Kapan pertama kali janji mengenai keturunan itu Allah berikan kepada Abraham dan Sara? (Lihat Kej. 12:1-4) .Apa pentingnya disebutkan umur Abraham (ay.5) dan kondisi Sara (ay.7) pada saat Ishak lahir, bila dikaitkan dengan umur Abraham ketika pertama kali menerima janji Allah tersebut?
  5. Simpulkanlah renungan Anda hari ini mengenai Allah dengan 1 (satu) kalimat dan kemudian apa yang akan Anda lakukan hari ini!

Renungan
Pengulangan ungkapan “Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankanNya”, “Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikanNya”, “sesuai dengan firmanNya” dalam peristiwa kelahiran Ishak memberi penekanan pada keajaiban dan kesetiaan Allah. Kelahiran Ishak bukan peristiwa kelahiran biasa, melainkan karena mujizat Allah. Hal ini diperkuat dengan pengulangan informasi mengenai usia Abraham dan Sara yang sudah tidak memungkinkan memiliki keturunan. Keajaiban Allah bukan terutama ditujukan pada peristiwa kelahiran itu sendiri, melainkan pada sejarah hidup umat manusia di muka bumi melalui kelahiran Ishak dan keturunannya. Keajaiban Allah melampaui akal, rencana, dan cara-cara manusia. Keajaiban Allah nyata pula dalam kesetiaanNya yang tidak lekang oleh waktu. Allah yang setia itu tidak pernah lupa dengan janjiNya, bahkan saat manusia sudah melupakannya karena lelah menanti, putus asa dan kehilangan kesabaran serta pengharapan.
Penggenapan janji Allah kepada Abraham setelah 25 tahun lamanya hanyalah satu bukti bahwa Allah kita adalah Allah yang setia. Seringkali manusia hanya memusatkan perhatiannya pada janji itu sendiri daripada pribadi Allah: menuntut segera tergenapinya janji Allah, menuntut bukti kebesaran Allah dengan terpenuhinya doa-doa kita. Sehingga ketika apa yang kita minta belum kita dapatkan, kita mulai meragukan kebesaran dan kesetiaan Allah. Pengabulan doa/permohonan hanyalah satu dari sekian banyak cara Allah membuktikan kesetiaanNya pada kita. Karena itu perhatian kita seharusnya melampui persoalan janji-janji Allah, persoalan dikabulkan/tidaknya doa kita, melainkan pada keteguhan iman bahwa kita memiliki Allah yang setia, yang sudah membuktikan kesetiaanNya turun temurun dalam sejarah hidup umat manusia hingga kini. Allah yang setia menemani kita dalam berbagai peristiwa kehidupan, baik ketika menggembirakan atau menyedihkan. Sehingga pada saat hidup kita sekarang terasa berat, kita tahu kita tidak pernah menanggungnya sendirian; ada Allah yang menemani kita.



Allah yang ajaib sanggup menentukan dan mengatur rancanganNya sempurna dalam hidup kita sesuai waktu dan kehendakNya.

Matius 10: 34-37 (Jumat, 20)

Melanjutkan bacaan kemarin, hari ini kita akan melihat salah satu karakteristik pelayanan yang Yesus lakukan dan hal itu besar pengaruhnya bagi para murid untuk mengetahui karakteristik hidup mereka sendiri sebagai murid Yesus.
  1. Ayat 34: Apa maksud perkataan Yesus di ayat ini? Apakah ayat ini boleh digunakan menjadi dukungan bagi sebagian orang bahwa kekristenan identik dengan kekerasan?
  2. Ayat 35-36: Apa maksud perkataan Yesus? Apakah berarti Yesus menghendaki adanya perpecahan dalam keluarga?
  3. Ayat 37: Apa yang sebenarnya Yesus kehendaki dalam diri para muridNya?

Renungan
Bagaimana memahami perkataan Yesus di ayat 34-37 ini tidak boleh dilepaskan dari konteks pembicaraan Yesus sebelum dan sesudahnya. Dalam perikop ini Yesus menggunakan gaya bahasa hiperbola untuk menonjolkan pesan secara menyolok. Pedang menjadi simbol penghakiman Allah atas dunia yang akan memisahkan dengan tajam antara orang yang percaya kepadaNya dan yang menolakNya. Bahkan akan terjadi di antara anggota keluarga, yaitu perpecahan yang terjadi karena ada anggota keluarga yang percaya dan ada yang tidak percaya kepada Dia. Pedang juga merupakan fakta bahwa kita yang hidup dalam Kristus akan membuat orang-orang yang membenci Yesus mengacungkan pedang (penderitaan) pada kita. Dengan demikian Yesus menghendaki para murid pada waktu itu dan juga kita untuk siap dan berani menghadapi pedang, baik yang timbul sebagai konsekuensi iman percaya kita kepada Allah, maupun penghakiman Allah sendiri atas hidup yang kita jalani.
Ayat 37 tidak dapat diartikan Yesus menghendaki keluarga kita tercerai berai, melainkan ini adalah pernyataan kehendak Yesus bahwa sebagai muridNya, kita harus lebih mengutamakan Dia, bahkan lebih dari ikatan yang paling kuat sekalipun pada budaya Yahudi waktu itu, yaitu keluarga (bdk. dg. Lukas 14:26). Sama sekali bukan maksud Yesus agar kita membenci orangtua dan keluarganya. Mengikut Yesus membutuhkan komitmen dan kesungguhan yang melebihi komitmen dan kesungguhan dari hubungan-hubungan apapun yang kita miliki dengan sesama manusia.
Bila kita ingin mengaitkan kedua pesan Yesus tersebut, maka kita harus mengingat bahwa salah satu penghalang kesetiaan kita kepada Yesus adalah karena kita lebih setia kepada sesuatu atau seseorang yang lain di dunia ini daripada dengan Yesus.


Berdamai dengan Allah seringkali menimbulkan konsekuensi pertentangan dengan dunia. Berdamai dengan dunia seringkali menimbulkan konsekuensi pertentangan dengan Allah.

Matius 10: 21-33 (Kamis, 19)

Secara umum pasal 10 menceritakan mengenai pengutusan murid-murid Yesus dan sekaligus pemaparan tentang kesulitan hidup yang harus mereka hadapi cepat atau lambat.
  • Ayat 21-22: Kenyataan hidup seperti apa yang akan mereka hadapi dalam mengemban tugas menjadi murid Yesus?
  • Sedikitnya ada tiga alasan yang Yesus sampaikan agar mereka tidak menjadi berkecil hati dan takut. Apakah alasan-alasan tersebut?
    (a) Ayat 26; (b) Ayat 24-25, 29-31(c) Ayat 22b, 28, 32-33
  • Renungkanlah hidup Anda: Hal atau situasi seperti apa yang seringkali membuat Anda berkompromi dengan ketidaksetiaan/ketidaktaatan pada Yesus? Apa yang menjadi ketakutan Anda sehingga Anda memilih untuk tidak taat?

Renungan
Baru-baru ini perusakan rumah ibadah kembali terjadi. Peristiwa itu berada di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat, pada Selasa. Menurut laporan Liputan 6, aksi ini diduga terkait penolakan warga atas pembangunan gedung akan dialihfungsikan menjadi gereja. Pada peristiwa ini sebuah gedung sarana pendidikan dan sebuah rumah hancur. Tidak seorang pun menghendaki kenyataan seperti itu terjadi, tetapi Alkitab sendiri sudah mengingatkan bahwa akan ada penolakan, pertentangan, kebencian kepada para pengikut Yesus. Pesan Tuhan Yesus tidak berhenti di situ, Ia menguatkan para murid dan kita untuk tidak takut dan tetap teguh dalam menghadapi penderitaan karena pembelaan iman kita. Ada tiga alasan yang Yesus sebutkan yaitu:
o Pada waktuNya, Tuhan akan menyingkapkan kebenaran tentang misi pelayanan Yesus dan kita para pengikutNya. Semua dusta dan kebencian yang ditujukan kepada pengikut Yesus dan juga kesetiaan kita kepadaNya akan terungkap dengan jelas.
o Penyertaan Yesus menjadi jaminan kita. Penderitaan kita tidak lebih dari apa yang Guru kita alami. Ini berarti penderitaan itu dapat Allah gunakan untuk membentuk kita makin menyerupai Kristus. Segala sesuatu yang terjadi pada kita tidak akan luput dari kendali kuasa Allah sebab kita sangat berharga di mata Allah.
o Akhir hidup kita sudah jelas, yaitu bersama Allah dalam kerajaanNya. Dengan demikian, Yesus mengingatkan kita untuk bertahan sampai pada kesudahannya dan tidak takut kepada kematian tubuh yang mengancam kita sekalipun .
Penderitaan sebagai pengikut Kristus belum berakhir, bahkan akan semakin mengancam. Karena itu dari sekarang kita harus mendisplin diri dalam ketaatan kepada Tuhan mulai dari hal-hal yang kecil dalam keseharian kita. Gereja kita sedang mempersiapkan diri dengan KomPaS (Komunitas Pelayanan antar Sesama), sebuah wadah persekutuan dan pembinaan kelompok kecil yang memiliki kehangatan antar anggotanya sehingga dapat saling menguatkan iman, menggiatkan pelayanan kepada Tuhan dan sesama sebagai buah pertumbuhan rohani. Mari bergabung!

Ujian ketaatan seringkali terjadi pada keadaan hidup yang paling manis, atau sebaliknya, keadaan hidup yang paling pahit

Mazmur 86: 1-10 (Rabu, 18)

Melalui mazmur ini kita akan melihat kehidupan doa pemazmur yang erat kaitannya dengan bagaimana ia mengenal Tuhan dengan baik, mengenal dirinya dengan baik pula, serta mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya. Sehingga melalui doanya kita dapat merasakan adanya kedekatan hubungannya dengan Allah.
  1. Ayat 3a, 5, 8-10: Allah seperti apa yang dikenal oleh pemazmur di ayat-ayat ini?
  2. Ayat 1b-2: Bagaimana pemazmur melihat dirinya sendiri?
  3. Ayat 2, 4: Apa yang menjadi permohonan pemazmur?
  4. Ayat 1, 3b, 6-7: Dengan dasar pengenalannya kepada Allah, diri sendiri dan kebutuhannya, tindakan apa yang kemudian dilakukan oleh pemazmur?
  5. Kehidupan doa seperti apa yang Anda miliki sekarang? Apakah ada hal baru yang ingin Anda lakukan setelah Anda merenungkan kehidupan doa pemazmur?

Renungan
Pemazmur mengenal Allahnya sebagai Allah yang penuh belas kasihan, Allah yang baik dan suka mengampuni, Allah yang berlimpah kasih setia, Allah yang besar dan melakukan keajaiban-keajaiban. Pemazmur meyakini bahwa Allahnya tidak dapat disejajarkan dengan siapa pun yang diakui sebagai allah oleh yang lainnya. Allahnya adalah satu-satunya Allah yang harus disembah dan dimuliakan oleh segala bangsa.
Pengenalan kepada Allah yang demikian membuat pemazmur sanggup melihat siapa dirinya sebenarnya. Dihadapkan pada Allah seperti itu, pemazmur menyebut dirinya ‘sengsara dan miskin aku’; ‘hambaMu’. Ini semua adalah sebutan dari seseorang yang mengakui bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang layak diperhitungkan oleh Allah, namun karena Allah mengasihinya dan karena ia percaya pada kasih Allah, ia menjadi berani dan dilayakkan untuk menaikkan permohonan kepada Allah.
Melihat kepada Allah dan melihat kepada dirinya sendiri membuat pemazmur sadar bahwa ia tidak akan sanggup menjaga hidupnya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri dan mendatangkan sukacita bagi dirinya sendiri. Ia sadar ia bergantung kepada Allah untuk semuanya itu.
Karena itulah pemazmur mengambil langkah untuk berseru kepada Allah, memohon belas kasihan Allah (ay.1) sepanjang hari (ay.3). Bukan sesekali, tapi sepanjang hari, setiap detik dalam hidupnya pemazmur membutuhkan Allah.
Doa yang dinaikkan pemazmur bukan sembarang doa dengan asal menaikkan permohonan, melainkan sebuah dialog yang lahir dari hubungan yang hidup dengan Tuhan yang hidup. Bagaimana dengan doa-doa Anda? Apakah doa Anda mulai terasa kering dan hambar, hanya penyampaian daftar permohonan? Hubungan Anda dengan Allah seperti apa yang dapat Anda rasakan sendiri dalam doa-doa Anda?


Isi percakapan Anda dengan Tuhan dalam doa mencerminkan hubungan seperti apa yang Anda miliki dengan Tuhan

Roma 6: 1-11 (Selasa, 17)

Jika kemarin kita membahas mengenai dua pandangan dan sikap yang keliru dalam penghayatan terhadap karya pembenaran yang Allah lakukan melalui Yesus Kristus, maka hari ini kita akan melanjutkannya dengan pergumulan hidup sesehari yang dialami orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus.
  1. Dikaitkan dengan perkataan Paulus di ayat 3-5 dan ayat 7, apakah setelah menjadi orang percaya, Anda kehilangan kemampuan untuk berbuat dosa?
  2. Apa maksud Paulus menjelaskan penggambaran perubahan hidup orang percaya dengan penggambaran baptisan?
  3. Renungkanlah, perubahan-perubahan apa saja yang telah terjadi dalam hidup Anda setelah Anda menjadi orang percaya? (dalam kaitannya dengan dosa)

Renungan
Paulus mengajar orang-orang Roma bagaimana menjalani hidup sebagai orang-orang yang telah dibenarkan dalam iman. Perikop ini bukan berbicara tentang baptisan. Paulus menggunakan istilah baptisan hanya untuk menjelaskan bagaimana orang percaya mengalami kematian dari dosa dan hidup bagi Allah. Banyak orang percaya yang berpikir bahwa pada saat ia percaya kepada Kristus maka ia kehilangan kemampuan untuk berbuat dosa atau jatuh dalam pencobaan. Pada kenyataannya tidak demikian, sebab jika demikian adanya, maka sekarang kita semua sudah menjadi makhluk Tuhan yang sempurna dan proses pengudusan itu sudah tidak ada lagi. Maka dengan demikian, semua perintah firman Tuhan untuk kita menjaga kemurnian hidup, untuk waspada terhadap dosa, untuk saling menjaga saudara seiman sudah tidak berlaku lagi. Jika demikian, apa maksud Paulus berkata bahwa kita sudah mati bagi dosa? Mati bagi dosa berarti kita yang sudah masuk dalam persekutuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus sudah dilepaskan dari perhambaan dosa, tidak bisa lagi bertekun dalam dosa (menikmati dosa). Di dalam persekutuan dengan Kristus, kita mempunyai kekuasaan yang lebih atas dosa, sehingga kita dimampukan untuk mengendalikan dan menguasai diri sedemikian rupa untuk tidak bertekun dalam dosa. Dengan demikian, semua perasaan tidak mampu lepas dari ikatan dosa bukanlah bagian dari hidup orang-orang percaya. Bahkan semua dakwaan Iblis yang dimunculkan lewat rasa tidak layak menghampiri Allah, yang membuat kita semakin jauh dan melarikan diri dari hadirat Allah harus disingkirkan. Kita harus waspada terhadap jerat dosa yang pada akhirnya selalu berusaha membuat kita jauh dari Allah, sebab kita sudah menjadi milik Kristus. Apapun bentuk jerat/perangkapnya, setiap hal yang berdampak menjauhkan kita dari persekutuan dengan Allah, kita sanggup untuk bersikap tegas dan berkata tidak.



Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran – Roma 6:18

Roma 5: 17-6:1 (Senin, 16)

Ajaran Paulus mengenai pembenaran karena iman dalam Yesus Kristus dan bukan karena melakukan hukum Taurat (3:22-23) rupanya belum dipahami secara penuh oleh para pendengarnya. Sehingga muncul berbagai pandangan ekstrim yang pada intinya merupakan tuduhan terhadap ketidakbenaran ajaran Paulus itu sendiri.
  1. 5:17-18: Perbuatan siapa dengan siapa yang sedang diperbandingkan oleh Paulus?
  2. Kalimatkan dengan sederhana inti pengajaran Paulus di ayat 17-18!
  3. Bacalah dengan teliti pasal 5:20. Apakah Anda setuju jika orang berkata bahwa maksud dari kalimat tersebut berarti kita boleh bertekun dalam dosa supaya kita semakin merasakan kasih karunia Allah (6:1)?
  4. Setujukah Anda jika orang berkata Paulus sedang menghina hukum Taurat?
  5. Bagaimana Anda sendiri mengartikan penjelasan Paulus dalam renungan hari ini bagi kehidupan Anda sebagai orang Kristen: Pemahaman seperti apa yang harus Anda miliki dan sikap hidup seperti apa yang harus Anda jalani?

Renungan
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menjadikan dirinya sendiri benar dengan cara-caranya sendiri. Hanya Allah yang dapat menganugerahkan pembenaran itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan Paulus bahwa sama seperti mereka dapat percaya bahwa karena dosa satu orang, yaitu Adam, semua manusia menjadi berdosa, maka Paulus ingin berkata bahwa tidak sulit untuk mempercayai apa yang Yesus lakukan bagi kita. Oleh ketaatan dan kebenaranNya, maka kita semua yang percaya kepadaNya juga beroleh kebenaran. Apa yang Paulus sampaikan ini masih asing bagi orang-orang Yahudi Roma karena selama ini mereka hidup dalam perhambaan hukum Taurat. Mereka menjadi orang yang mengagung-agungkan kelompok mereka yang berpegang pada Taurat dan merendahkan bangsa lain di luar Yahudi yang tidak memiliki Taurat. Dengan demikian, bisa jadi apa yang Paulus sampaikan disalahpahami oleh kaum legalis sebagai bentuk penghinaan terhadap Taurat atau bentuk dukungan bagi kalangan antinomianis untuk menjalani hidup sebebas-bebasnya tanpa hukum. Paulus tidak sedang menghina Taurat sebab yang dimaksudkan adalah dengan pemberian Taurat saja kita dapat melihat bahwa manusia cenderung melakukan pelanggaran terhadap hukum Allah tersebut (5:20). Makin diatur, manusia makin menampakkan pemberontakan dan kegagalannya untuk hidup seperti standard Allah. Ini menunjukkan bahwa manusia benar-benar bergantung pada Allah untuk pembenaran dirinya, bukan dengan usahanya sendiri. Jadi, karya Kristus harus diterima dengan rendah hati, diimani dan dijalani dengan serius untuk membuahkan hidup yang berkenan kepada Allah. Bukan direndahkan dengan dua ekstrim sikap tersebut: legalis yang merasa bahwa cukup dengan hidup menjadi orang baik-baik sehingga menolak karya Kristus, atau antinomianis yang berpikir karena pembenaran adalah karunia Allah maka tidak perlu ada tanggung jawab hidup benar setelahnya.

Dua kesalahan dalam menghayati karya Kristus secara tepat adalah terlalu sombong dalam praktik kesalehannya atau sebaliknya terlalu jauh dari kerinduan hidup saleh

Mazmur 104:10-18 (Minggu, 15)

Air adalah benda yang biasa kita lihat dalam kehidupan kita setiap hari. Hidup kita tidak bisa lepas dari air. Kita menikmatinya sebagai bagian penting dari makanan dan minuman kita. Namun, pernahkah kita menghayati keberadaan air secara lebih utuh? Bacaan kita hari ini mengajak kita melihat air sebagai anugerah Tuhan bagi seluruh mahluk ciptaan-Nya, bukan hanya untuk diri kita sendiri.
  1. Pemazmur mengajak kita mengikuti perjalanan air sejak dari mata air. Dari manakah mata air itu berasal? Ke mana sajakah air ini bergerak? (Catatan: ay. 13, kamar-kamar loteng-Mu adalah ungkapan yang biasa digunakan untuk menunjuk ruang-ruang di langit).
  2. Pemazmur menuturkan berbagai pihak yang mendapat manfaat dari air. Siapakah sajakah mereka?
  3. Perhatikan bahwa manfaat itu dinikmati secara berantai. Ada yang mendapatkan manfaat secara langsung, ada pula yang mendapatkannya secara tak langsung. Apa artinya?
  4. Melalui bacaan hari ini, hal apa saja yang dapat kita pelajari mengenai air dan hubungannya dengan kehidupan di alam semesta? Tuliskan minimal tiga hal.
  5. Setelah merenungkan bagian ini, apa yang akan Anda lakukan sebagai tindakan nyata untuk menghargai air?

Renungan
Pada bagian bait sebelumnya – yang menjadi bahan renungan kemarin - pemazur menguraikan keberhasilan Tuhan mengendalikan air yang ganas. Pemazmur melanjutkan uraian tersebut dalam bacaan hari ini. Air yang telah ditaklukkan itu sekarang digunakan-Nya sebagai pemberi kehidupan.
Pertama, pemazmur mengajak kita melihat air sebagai pemberian Tuhan. Tuhanlah yang melepaskan mata-mata air ke dalam lembah-lembah dan mengalir ke gunung.gunung. Kedua, pemazmur mengajak kita melihat air sebagai alat di tangan-Nya untuk memelihara kehidupan. Air yang mengalir itu menyusur padang dan hutan memberi minum segala binatang di dekatnya. Air yang terkena panas, menguap menjadi awan, lalu turun sebagai hujan, dan menjadi sungai itu ternyata tidak bergerak dengan sia-sia. Ketiga, air bukan hanya bagi manusia melainkan juga bagi seluruh mahluk ciptaan-Nya. Perjalan panjang mereka menjadi berkat bagi segala mahluk: menghasilkan pertumbuhan, memberi makanan, mendatangkan sukacita, membangun tempat-tempat perlindungan, dan sebagainya. Tidak seharusnya manusia memonopoli air, apalagi merusaknya demi kepentingannya sendiri.
Renungan hari ini hendaknya membuat kita menyadari kesalahan kita, khususnya dalam memperlakukan air. Apalagi krisis air sudah mulai hadir di depan mata kita. Air yang bersih dan sehat semakin sulit diperoleh. Di lain pihak, pencemaran terhadap air semakin merajalela. Sampah-sampah mengotori sungai. Limbah industri mencemari laut. Sikap seperti itu menunjukkan ketidakpedulian kita terhadap air. Cukup jelas pula, kita gagal menghayati air sebagai anugerah Tuhan. Kita juga lupa bahwa air adalah alat di tangan Tuhan untuk memelihara kehidupan di bumi. Padahal, ancaman terhadap air berarti ancaman terhadap kehidupan di bumi. Kita juga cenderung terlalu egois menggunakan air. Sikap hemat terhadap air masih jauh dari budaya kita sehari-hari. (TW)


Air adalah alat di tangan Tuhan untuk memelihara kehidupan di bumi. Ancaman terhadap air berarti ancaman terhadap kehidupan di bumi.

Mazmur 104:1-9 (Sabtu, 14)

Alam semesta ciptaan Tuhan bukan hanya memberi kita tempat tinggal. Juga bukan untuk kita nikmati saja. Bukan. Ada yang lebih penting dari sekadar menempati dan menikmati. Melalui seluruh alam semesta yang diciptakan-Nya, kita dapat mengenai kebesaran Tuhan, sang Pencipta. Jika kita bersedia meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan hal-hal biasa di sekitar kita, kita akan melihat keagungan-Nya.
  1. Ay.1a. Ajakan apa yang di sampaikan di sini? (ay.1)
  2. Ay. 1b-5. Sebagai apakah Tuhan digambarkan di sini? Simbol-simbol kebesaran apakah yang dipakai oleh Tuhan? Apa yang hendak diajarkan melalui kalimat-kalimat ini?
  3. Ay.6-9. Peristiwa apakah yang diungkapkan pemazmur dalam ayat-ayat ini? Siapa subyek utama dalam peristiwa tersebut? Apa artinya?
  4. Siapakah subyek utama dari keseluruhan proses yang terjadi dalam hidup Anda? Peristiwa manakah dalam hidup Anda yang membuktikan kesimpulan tersebut?
  5. Pada hari ini, apa yang akan Anda lakukan untuk memuji kebesaran Tuhan? Pilihlah minimal sebuah tindakan yang nyata untuk hal ini.

Renungan
Mazmur ini diawali dengan ajakan untuk memuji Tuhan. Meski ajakan ini singkat, namun alasan yang disampaikan sangat kuat. Tuhan layak dipuji karena kebesaran-Nya. Tuhan adalah Raja yang mengenakan pakaian kebesaran-Nya, lengkap dengan berbagai perangkat lainnya: kendaraan dan para pelayan. Simbol keagungan dan perangkat kebesaran-Nya itu dibuat-Nya dari bagian-bagian alam semesta (terang, langit, air, awan, angin, api). Semua itu menegaskan kekuasaan Tuhan atas alam semesta.
Melalui syair tersebut pemazmur mengajak kita melihat alam semesta dengan cara berbeda. Ketika kita melihat terang, langit, air, awan, angin,atau api hendaknya kita juga dapat melihat keagungan Tuhan dibalik itu semua. Pernahkah Anda melihat benda-benda alam di sekitar Anda dengan cara demikian?
Uraian mengenai kekuasaan Tuhan atas alam semesta dilanjutkan di ayat-ayat berikutnya. Ayat-ayat ini mengajak kita merenungkan peristiwa penciptaan alam semesta. Ketika menciptakan alam semesta, Tuhan terlebih dahulu menaklukkan ganasnya air. Ganasnya air merupakan sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang Yahudi. Mazmur ini menyatakan bahwa air yang ganas itu telah ditaklukkan dan Tuhan adalah Subyek (sang Pelaku) yang telah mengerjakan semua itu. Ayat-ayat ini merupakan pengakuan iman yang sangat penting bagi umat Tuhan. Di dalam pengakuan bahwa Tuhan merupakan Subyek atas alam semesta terkandung pengakuan bahwa Tuhan juga merupakan subyek atas kehidupan manusia. Kesanggupan Tuhan menaklukkan ganasnya air merupakan bukti yang cukup untuk mendorong kita bersandar kepada-Nya.
Dengan demikian keseluruhan Mazmur ini mengajak kita memuji keagungan Tuhan dan mengajak kita senantiasa bersandar kepada kuasa-Nya yang dahsyat. Sebuah kesadaran rohani yang diperoleh dengan cara sederhana, yaitu mengamati alam semesta. (TW)


Keindahan alam semesta adalah wujud nyata keagungan sang Pencipta, namun sikap dan tindakan kita justru mengubahnya menjadi sumber bencana.

Markus 16:9-20 (lanjutan; Jumat 13)

Seperti disebutkan kemarin, selain untuk membangkitkan iman para murid, perikop ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan para murid (yaitu gereja) kepada tugas dan kewajiban mereka. Keyakinan akan kebangkitan Yesus Kristus seharusnya juga mendorong gereja untuk memberitakan Injil (artinya, Kabar Baik) ke seluruh dunia.
  1. Ay. 15-16. Ke mana sajakah para murid harus memberitakan Injil? Kepada siapa Injil itu diberitakan? Apa artinya ”kepada segala mahluk”? Bagaimana seharusnya Kabar Baik itu diterima/ ditanggapi?
  2. Ay. 17-18. Perhatikan tanda-tanda yang disebutkan di sini. Mengapa tanda-tanda tersebut perlu disebutkan di sini? Apakah gereja masa kini masih membutuhkan tanda-tanda tersebut?
  3. Ay. 19-20. Apa yang disebutkan mengenai Yesus dalam ayat ini? Apa hubungannya dengan pelayanan yang dilakukan para murid?
  4. Melalui bacaan hari ini, hal apa saja yang dapat kita pelajari mengenai pemberitaan Injil? (Sebutkan minimal dua hal).

Renungan
Tujuan Yesus menampakkan diri kepada para murid bukan hanya untuk meneguhkan iman mereka. Yesus mempunyai tujuan yang lebih penting, yaitu mengutus para murid-Nya. Kita membangun iman kita bukan untuk digunakan secara egois agar kita menerima mujizat, mengalami kesembuhan, atau mendapatkan kemakmuran. Iman yang teguh bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk melaksanakan tugas pengutusan-Nya.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk tanda-tanda yang dijanjikan Tuhan bagi para murid-Nya. Tanda-tanda itu – yaitu bahasa baru (semacam bahasa Roh), kemampuan menaklukkan ular, meminum racun, doa kesembuhan, dan sebagainya – diberikan kepada para murid agar sebagai perlengkapan untuk memberitakan Injil. Apakah tanda-tanda tersebut masih diperlukan oleh gereja masa kini? Dalam rangka pekabaran Injil di suatu tempat dan kondisi tertentu memang masih diperlukan.
Hal yang memprihatinkan bukanlah hilangnya tanda-tanda tersebut dari gereja masa kini. Sebaliknya, ketika tanda-tanda tersebut dikaruniakan oleh Tuhan, para pekabar Injil jutsru sering menyalahgunakannya. Kadangkala tanda-tanda itu digunakan hanya sebagai sebuah pertunjukan. Orang yang datang justru adalah orang-orang Kristen yang hanya sekadar ingin tahu dan ingin menyaksikan ”keajaiban-keajaiban” itu terjadi. Kadang kala tanda-tanda itu digunakan oleh pemberita Injil untuk menambah popularitasnya, bukan untuk memuliakan nama-Nya. Tentu saja semua bentuk penyalahgunaan itu membuat pekabaran Injil tidak mengalami kemajuan, meski di sana-sini kita mendengar ada mujizat ini dan itu. Harus kita akui bahwa kita semua masih cenderung egois. Sebagian besar anugerah khusus itu kita pakai untuk kepentingan pribadi, bukan untuk memberitakan Injil.
Melalui bacaan hari ini, ada dua hal yang dapat kita pelajari tentang pekabaran Injil. Pertama, mereka yang percaya akan kebangkitan-Nya harus terlibat dalam memberitakan Kabar Baik itu. Kedua, setiap bentuk anugerah yang kita terima dari-Nya (termasuk tanda-tanda mujizat yang dijanjikan Kristus) harus kita gunakan untuk kepentingan pemberitaan Kabar Baik itu. (TW)


Tanda ajaib dan mujizat bukanlah buah iman yang boleh dinikmati secara egois, melainkan benih Injil yang harus ditaburkan bagi orang-orang sekitar kita.

Markus 16:9-20 (Kamis, 12)

Dari isinya kita tahu bahwa bagian penutup dari Injil Markus ini ditulis dengan tujuan membangkitkan iman para murid Kristus, sekaligus juga mengingatkan mereka akan tugas yang harus mereka selesaikan. Tujuan pertama – membangkitkan iman para murid – akan kita bahas pada hari ini, sedangkan tujuan lainnya akan kita bahas dalam renungan besok.
  1. Ay.9. Perhatikan bahwa pengalaman Maria Magdalena, yaitu bahwa Yesus pernah mengusir tujuh setan darinya, disebutkan secara khusus di sini. Menurut Anda apa tujuannya?
  2. Ay.10-11. Para murid Yesus disebutkan dengan istilah khusus, yaitu “mereka yang selalu mengiringi Yesus”. Menurut Anda, mengapa? Apa hubungannya dengan ketidakpercayaan mereka?
  3. Ay.12-13. Meski mendapatkan kesaksian dari dua orang teman mereka sendiri, namun para murid tetap tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Menurut Anda, mengapa mereka sulit mempercayai berita kebangkitan-Nya?
  4. Ay. 14. Setelah menampakkan diri kepada Maria Magdalena, lalu kepada dua murid, akhirnya Yesus menampakkan diri kepada seluruh murid. Semua itu dilakukan agar para murid percaya akan kebangkitan-Nya. Apa kesimpulan Anda? Mengapa Yesus menegor ketidakpercayaan mereka?
  5. Menurut Anda, hal apakah yang membuat murid-murid Kistus di masa kini meragukan kuasa-Nya? Apa yang akan Anda lakukan untuk menumbuhkan iman Anda?

Renungan
Pengalaman Maria yang pernah dibebaskan dari tujuh setan oleh Yesus memang penting disebutkan di sini. Pengalaman ini mengingatkan kita kepada kuasa Yesus yang pernah dinyatakan di dalam kehidupan Maria itu. Pengalaman itu tentu saja dapat membuat Maria lebih mudah menerima fakta kebangkitan Yesus. Namun, tidak berarti bahwa kita yang tidak pernah mempunyai pengalaman semacam itu tidak bisa percaya akan kebangkitan-Nya. Pertumbuhan iman tidak hanya bergantung pada pengalaman. Pertumbuhan iman seharusnya juga terjadi melalui pemberitaan. Itulah sebabnya Yesus menegor keras mereka yang tidak percaya terhadap teman-teman mereka yang telah memberitakan kabar baik itu.
Kecenderungan untuk menyandarkan iman kepada pengalaman juga masih terjadi di antara orang-orang Kristen masa kini. Banyak orang Kristen yang lebih suka menunggu terjadinya pengalaman-pengalaman rohani yang spektakuler di dalam hidup mereka. Sementara itu, semakin sedikit orang Kristen yang dengan tekun membaca dan mempelajari firman-Nya. Padahal justru dari firman itulah seharusnya kita mendapatkan pertumbuhan rohani kita. Pengalaman-pengalaman spektakuler memang bisa menumbuhkan kerohanian kita, namun juga bisa membuat kerohanian kita menjadi kerdil bila tidak disertai dengan ketekunan mempelajari firman-Nya.
Cara terbaik untuk mempertahankan laju pertumbuhan iman kita adalah dengan mempelajari firman-Nya. Pengalaman-pengalaman rohani yang terjadi kemudian akan meneguhkan apa yang telah kita pelajari dari firman-Nya. (TW)

Tanpa ketekunan mempelajri firman Tuhan, pengalaman-pengalaman rohani yang spektakuler justru akan membuat iman kita semakin kerdil.

Kolose 1:18-23 (Rabu, 11)

Paulus telah membuktikan keilahian Yesus Kristus dengan melihat hubungan-Nya dengan penciptaan alam semesta. Kini Paulus mengajak kita melihat keilahian Kristus dari sisi yang lain, yaitu hubungan-Nya dengan jemaat. Dengan demikian semakin jelas apa yang seharusnya kita lakukan sebagai jemaat-Nya.
  1. Apa hubungan Kristus dengan jemaat? (ay.18, bandingkan dengan ayat 15) Hal apa sajakah yang menunjukkan keilahian Yesus Kristus?
  2. Apa yang dilakukan Kristus bagi jemaat (ay.19-22a), dan apa tujuan dari semua itu? (ay.22b)
  3. Sebagai orang-orang yang telah diperdamaikan dengan Allah melalui Yesus Kristus, apa yang seharusnya kita lakukan? (ay.23)
  4. Agar Anda dapat bertekun dalam iman, hal apa saja yang perlu Anda lakukan? Sebutkan minimal dua hal.

Renungan
Hubungan Kristus dan jemaat-Nya adalah seperti kepala bagi tubuh. Hal ini bukan hanya berlaku secara organisasional, melainkan juga secara operasional. Ini erat terkait dengan kuasa ilahi yang diberikan Allah melalui Kristus, yaitu kuasa kebangkitan. Kebangkitan Kristus adalah bukti dan jaminan yang pasti bagi kebangkitan umat-Nya.
Jaminan kebangkitan itu juga erat berhubungan dengan karya-Nya yang lain, yaitu karya pendamaian. Oleh Kristus Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia dan dengan seluruh mahluk ciptaan yang lain. Bumi dan semua mahluk yang ada di atasnya tidak lagi berada di bawah kutukan/ hukuman dosa. Bagi orang-orang percaya, bumi dan semua mahluk ciptaan-Nya merupakan anugerah Allah bagi umat-Nya.
Karya pendamaian ini tentu saja juga berdampak bagi manusia, yaitu pulihnya hubungan manusia dengan Allah. Manusia tidak lagi hidup jauh dengan Allah. Manusia mampu mengalahkan kecenderungannya untuk memusuhi Allah. Karya Kristus ini telah digenapi-Nya, namuk kita masih harus melanjutkan proses tersebut seumur hidup kita hingga kelak kita kudus, tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
Apa yang harus kita lakukan di dalam proses tersebut? Pertama, Paulus menasihatkan agar kita bertekun dalam iman. Kata bertekun menunjukkan bahwa perjuangan iman kita tidaklah mudah. Namun, tidak berarti bahwa kita harus kalah. Kedua, Paulus memegang teguh pengharapan kita dalam Injil. Kesempurnaan keselamatan di dalam Kristus memang belum kita nikmati sepenuhnya, namun pengharapan untuk itu adalah sebuah pengharapan yang pasti dan yang sudah terjamin oleh kebangkitan-Nya. Dengan kata lain, memang mungkin saja kita harus berhadapan dengan berbagai kesulitan dan penderitaan. Namun, sebesar dan seberat apapun penderitaan itu tidak boleh menggeser pengharapan kita di dalam Dia. (TW)

Mereka yang telah diperdamaikan di dalam Kristus tidak lagi melihat apa yang ada di sekitarnya sebagai musuh.

Kolose 1:15-17 (Selasa, 10)

Di kalangan jemaat Kolose pada waktu itu terdapat sekelompok orang yang mengajarkan ajaran yang keliru mengenai Yesus Kristus. Ajaran ini menyatakan bahwa Kristus memang lebih tinggi dari manusia, namun Ia bukan Allah. Ia juga bukan manusia dengan darah daging seperti kita. Tubuh Kristus adalah maya (semu) karena – menurut mereka – segala hal yang bersifat materi/ jasmani adalah buruk/ jahat. Ajaran sesat itu disebut sebagai ajaran Gnostik. Perikop bacaan kita hari ini merupakan upaya Paulus untuk meluruskan pandangan jemaat dari pengaruh ajaran sesat tesebut. Melalui ayat-ayat ini Paulus menegaskan keilahian Kristus.
  1. Ayat 15a. Apa yang di katakan ayat ini mengenai hubungan Yesus Kristus dengan Allah? Menurut Anda, dalam hal apakah Kristus menjadi “gambar Allah”? (lihat juga ayat 19)
  2. Ayat 15b-16. Apa hubungan Yesus Kristus dengan mahluk ciptaan yang lain? Apa hubungan Yesus Kristus dengan seluruh proses penciptaan?
  3. Ayat 17. Ayat ini merupakan kesimpulan dari dua ayat sebelumnya. Apa yang ditegaskan mengenai Yesus Kristus di ayat ini?
  4. Dalam Kejadian 1:27 disebutkan bahwa manusia juga diciptakan menurut “gambar Allah”. Menurut Anda, apa artinya dan apa hubungannya dengan Yesus Kristus sebagai gambar Allah? Sebagai gambar Allah, bagaimana seharusnya kita menyatakan Allah yang tidak kelihatan itu di dalam kehidupan Anda?

Renungan
Orang-orang Yahudi sangat menghormati Allah, meski mereka tidak pernah melihat Allah. Allah tidak kelihatan, dan tak seorangpun dapat melihat Allah dan tetap hidup (Ulangan 5:26). Kemuliaan Allah justru dinyatakan lewat keberadaan-Nya yang tidak kelihatan itu. Namun, kedatangan Yesus Kristus ke dunia telah mengubah total pemahaman tersebut. Yesus Kristus hadir sebagai gambar Allah. Segala kepenuhan Allah (sifat-sifat-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya) ada di dalam Kristus.
Hubungan Yesus Kristus dengan seluruh mahluk ciptaan sangatlah erat. Paulus menegaskan keilahian Kristus dengan menunjukkan keterlibatan-Nya dalam penciptaan alam semesta. Penjelasan ini mengarahkan kita pada salah satu kesimpulan penting mengenai keilahian Yesus Kristus, yaitu keberadaan-Nya yang kekal (ay. 17).
Berbicara tentang gambar Allah, apa yang dikerjakan Kristus selama menjadi manusia sesungguhnya bukan merupakan mandat baru. Ketika diciptakan, kita manusia juga diciptakan sebagai gambar Allah. Artinya, seperti Kristus, seluruh kepenuhan Allah juga seharusnya ada dalam diri kita. Sifat-sifat Allah, kasih Allah dan kuasa Allah seharusnya nampak dalam hidup kita. Tentu saja, bagi kita ini merupakan sebuah proses. Tidak mudah untuk mewujudkan seluruh kepenuhan Allah itu. Namun, proses tersebut dapat kita mulai dari berbagai hal yang sederhana. Cara kita bersikap dan bertindak terhadap orang-orang sekitar kita, juga terhadap mahluk-mahluk dan alam ciptaan-Nya, merupakan cara yang amat efektif untuk menyatakan kehadiran Kristus di dalam hidup kita. Anda pun bisa memulainya dari kehidupan di dalam keluarga atau lingkungan tempat tinggal Anda. (TW)


Menyatakan kehadiran Allah yang besar dapat Anda lakukan dengan cara-cara yang sederhana.

Kejadian 2:4b-17 (Senin, 9)

Kejadian 2:4b-7 merupakan juga mencatat kisah penciptaan alam semesta seperti yang diceritakan di bagian sebelumnya (1:1-2:4a). Bentuknya memang lebih ringkas, namun berita yang disampaikan sama. Kisah itu memberitakan kekuasaan Allah atas alam semesta dan kasih Allah kepada manusia. Manusia diciptakan setelah ada kehidupan di bumi dan bumi ini siap untuk ditempati.
  1. Ayat 4b-7. Bagaimana Allah menghidupkan tumbuh-tumbuhan? Bagaimana Allah menghidupkan manusia? Melalui ayat-ayat ini, apa yang Anda pelajari mengenai hubungan Allah dengan kehidupan manusia dan alam semesta?
  2. Ayat 8-14. Apa saja bentuk kasih karunia Allah kepada manusia? Apa yang dapat Anda pelajari di sini?
  3. Ayat 15-17. Apa tugas yang diberikan Allah kepada manusia? (ay.15) Mengapa di taman itu juga ditempatkan sebuah pohon yang buahnya tidak boleh dimakan manusia (ay.16-17). Apa yang seharusnya dipelajari oleh manusia melalui pohon tersebut?
  4. Melalui bacaan hari ini apa yang dapat Anda pelajari mengenai hubungan manusia dengan Allah? Bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta?

Renungan

Sejak manusia diciptakan, tiada henti Alkitab berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan Allah yang menciptakan mereka. Penulis kitab Kejadian ini ingin mengatakan kepada kita bahwa kerinduan Allah menjalin hubungan dengan manusia ciptaan-Nya telah dinyatakan sejak manusia diciptakan. Mengenai hal ini ada dua hal yang menarik. Pertama, di samping melibatkan manusia, hubungan itu juga melibatkan semua mahluk ciptaan yang lain. Kedua, inisiatif atau prakarsa untuk hubungan itu selalu dimulai dari Allah.
Allah memulai hubungannya dengan manusia dengan menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Taman Eden yang indah adalah salah satu wujud kasih Allah kepada manusia. Keindahan taman Eden yang diceritakan secara rinci menegaskan besarnya kasih Allah yang diberikan kepada manusia. Manusia dapat menikmati indahnya kasih Allah melalui alam yang dikaruniakan kepada mereka.
Selain memberikan taman Eden sebagai tempat tinggal, Allah juga melibatkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Manusia diberi peran agar dapat menikmati taman Eden dengan lebih baik. Meski demikian Allah juga menempatkan sebuah pohon – yang disebut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat – sebagai satu-satunya pohon yang buahnya tidak boleh dimakan. Sebuah pengecualian, namun sesungguhnya tidak terlalu berat bagi manusia. Dengan menempatkan buah itu di tengah taman, Allah dapat mengajar dan melatih ketaatan manusia.
Perlu mendapat perhatian kita bahwa sejak semula Allah menghendaki manusia mempunyai hubungan yang positif dan sehat dengan alam tempat tinggalnya. Allah memberi mandat agar manusia mengusahakan dan memelihara taman itu. Memelihara lingkungan tempat tinggal kita berarti menghargai anugerah Tuhan dan menaati mandat yang dipercayakan Allah kepada manusia.

Hormat kita kepada Allah sang Pencipta harus kita wujudkan juga dengan menghargai dan memelihara alam semesta ciptaan-Nya.

Matius 10:1-4 (Minggu, 8)

Bacaan hari memang hanya merupakan perikop yang pendek dan sepertinya tidak terlalu punya kaitan dengan kita sekarang karena hanya mencantumkan sejumlah nama orang. Namun tentunya Matius tetap mempunyai tujuan dan pesan tersendiri dari pencatatan ini.
  1. Perhatikan letak perikop ini diantara dua perikop yang lain. Bacalah pasal 9:27-38 dan 10:5 sebagai pembuka perikop. Dengan mengaitkan isi perikop kita dan hubungannya dengan perikop sebelum dan sesudahnya, apa tujuan Matius menuliskan ayat-ayat bacaan hari ini?
  2. Dari ayat 1, hal menarik apakah yang bisa Anda pelajari untuk kehidupan pelayanan Anda sekarang ini?
  3. Dari ayat 2, hal menarik apakah yang bisa Anda pelajari dengan memperhatikan keragaman latar belakang murid-murid Yesus?
  4. Buatlah satu kalimat yang merangkumkan inti pesan renungan Anda dari bacaan hari ini!
    Buatlah satu kalimat yang Anda ucapkan bagi diri Anda sendiri tentang apa yang akan Anda lakukan hari ini untuk melakukan firman Tuhan yang sudah Anda rangkumkan di jawaban no.4!

Renungan
Setelah Matius menceritakan bahwa di dalam pelayanan yang Yesus lakukan, Yesus membutuhkan para ‘penuai’ yang mau bekerja di ladangnya. Semakin banyak orang yang butuh untuk dilayani, dan ini berarti semakin banyak pula kebutuhan tenaga untuk menjadi penuai. Dari catatan Matius kita dapat melihat bahwa perkataan Yesus ini segera ditindaklanjuti dengan pemilihan 12 murid dan kemudian di perikop setelahnya semakin jelas bagi kita tujuan pemilihan dan pengutusan mereka. Matius menunjukkan kepada kita bahwa alasan pemilihan itu adalah adanya misi Allah dan tujuan dari pengutusan adalah juga untuk mengerjakan misi Allah. Misi Allah itu sendiri menjadi cikal bakal dan tujuan dari adanya gereja, beserta dengan segala jabatan, bidang, dan ragam pelayanan gerejawi. Hal ini kemudian diperkuat dengan cara pengutusan itu sendiri, diawali semata oleh panggilan Yesus dan otoritas/kuasa yang Yesus berikan. Karena itu walau latar belakang dan kemampuan para murid Yesus sangat beragam, itu tidak menjadi soal dalam hal keefektifan pelayanan karena otoritas yang mereka miliki adalah berasal dari Tuhan Yesus sendiri, semua digerakkan oleh misi yang sama dan ingin mencapai tujuan yang sama pula. Hingga hari ini gereja kita terus berkiprah dalam menjadi utusan-utusan Allah, kebutuhan untuk menuai dan dituai juga semakin meningkat. Kita semua sedang menyongsong HUT ke-50 gereja kita: GKI Residen Sudirman. Gereja terus membutuhkan orang untuk bersama-sama bekerja menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi masyarakat kita. Semakin banyak orang didalamnya yang sadar bahwa hidupnya digerakkan oleh dan untuk misi Allah, maka semakin kuat pernyataan kasih Allah menyapa kehidupan jemaat dan bahkan orang-orang di luar gereja kita.


Yesus memanggil kita bukan hanya untuk datang kepada Dia, tetapi juga untuk pergi bagi Dia ( - R. Warren, Purpose Driven Life)

Kejadian 18:1-15 (lanjutan, Sabtu 7)

Abraham merupakan tokoh yang setia dan taat pada Allah. Sekalipun Abraham belum tahu akan melangkah kemana, namun Abraham menerima panggilan khusus dari Allah untuk meninggalkan negerinya dan mengharapkan janji Allah yang akan berlangsung sampai kepada keturunannya. Belajar untuk taat kepada Allah menolong Abraham untuk mempunyai sikap moral yang baik, sehingga Abraham bisa menjadi berkat, bukan hanya menjadi berkat bagi segelintir orang, namun menjadi berkat bagi semua bangsa.

  1. Menurut Anda, apakah Abraham mengenal tiga orang yang datang menghampiri dia?
  2. Bagaimana reaksi Abraham ketika melihat ketiga orang tersebut? (ay.2)
  3. Sikap apa yang ditunjukkan Abraham ketika menyambut ketiga tamunya? (ay. 3-5a)
  4. Sikap apakah yang bisa Anda teladani dari Abraham melalui perikop ini? Dan bagaimanakah Anda dapat melakukannya dalam kehidupan Anda?

Renungan
Dari sudut pandang si pembaca, bisa diketahui bahwa Allahlah yang menampakkan diri kepada Abraham melalui ketiga orang tamunya. (ay.1). Namun, tidak diberitahu dalam teks ini apakah Abraham mengenal ketiga orang tamu yang datang menghampiri dia. Hal yang paling menonjol yang bisa dilihat dari Abraham melalui perikop ini adalah reaksi dan sikap dia terhadap para tamunya. Untuk menyambut para tamunya, Abraham memberikan penghormatan yang tertinggi dengan bersujud (ay. 2). Dengan sopan santun dan rendah hati, tetapi dengan kuat Abraham memohon, supaya ketiga orang itu singgah ke rumahnya (ay. 3-5). Kata-kata undangan Abraham sangat merendah dengan hanya menawarkan air dan sepotong roti saja, padahal dalam kenyataannya, Abraham mempersiapkan dan menyediakan segala macam makanan dan minuman untuk perjamuan besar yang direncanakan Abraham bagi tamunya. Dari sikap Abraham bisa dilihat bahwa Abraham memberikan yang terbaik bagi tamunya. Sekalipun tidak diberitahu apakah Abraham tahu bahwa tamunya itu adalah penampakan Allah, melalui para tamu itu, Abraham telah menyembah AllahNya. Bagi Abraham, menyambut tamu merupakan suatu anugerah dan karunia, seperti apapun kondisi tamu ini, bagaimanapun miskin atau melaratnya dia. Abraham siap sedia untuk memberikan pertolongan dan pelayanan kepada mereka. Menjadi berkat bagi sesama merupakan tugas dan tanggung jawab setiap orang Kristen. Namun sering sekali hal itu hanya menjadi sebuah konsep tanpa ada realisasi. Kerendahan hati merupakan salah satu kunci utama yang sanggup menjadikan kita sebagai berkat bagi sesama karena kerendahan hati merupakan kemampuan untuk menjembatani antara konsepsi dan realitas. Kerendahan hati inilah yang diteladankan oleh Abraham kepada kita. Kerendahan hati untuk menolong orang-orang yang menderita, sengsara, yang terpinggirkan, dan orang-orang yang membutuhkan kasih Kristus. Ketika Anda mengaku diri sebagai murid Kristus, sikap rendah hati tentunya menjadi sikap Anda, sehingga Anda mampu menjadi berkat bagi orang yang membutuhkan. (mads)

Belajar rendah hati adalah sikap yang harus ada dalam diri seorang murid Kristus

Kejadian 18:1-15 (Jumat, 6)

Allah setia akan janji-janjiNya, Dia tidak pernah ingkar janji. Allah berjanji kepada Abraham untuk membuat Abraham menjadi bangsa yang besar dan memberkati Abraham(Kej 12: 2) . Janji kepada keturunan Abraham melalui Sara ini merupakan langkah menentukan dalam pemenuhan janji-janji Allah. Janji itulah yang dinubuatkan dalam Kejadian 15: 1-15. Perikop ini merupakan nubuat Allah kepada Abraham dan Sara, bahwa di dalam jangka satu tahun anak laki-laki yang dijanjikan itu akan pasti dilahirkan oleh Sara.
  1. Siapakah ketiga orang yang menampakkan diri kepada Abraham? (ay. 1)
  2. Apakah pernyataan yang disampaikan oleh ketiga orang itu kepada Abraham? (ay. 9-10)
  3. Bagaimana kondisi fisik Abraham dan Sara ketika pernyataan itu disampaikan kepada Abraham? (ay.11)
  4. Dari segi medis, masih memungkinkankah bagi Sara untuk mengandung?
  5. Ketika Sara mendengar berita itu, bagaimana sikap Sara? (ay. 12)
  6. Menurut Anda, adakah sesuatu hal yang mustahil bagi Allah? Bagaimana
    Anda mengimani hal ini dalam kehidupan Anda?

Renungan
Peristiwa Kejadian 18: 1-15 merupakan peristiwa Theophani (penampakan Allah). Melalui peristiwa ini Allah menampakkkan diri kepada Abraham untuk menyatakan kembali janjinya kepada Abraham yaitu janji memberikan keturunan melalui isterinya, Sara. Dalam usia yang sudah tua, sulit bagi Abraham dan Sara untuk mempercayai pernyataan ketiga tamu Abraham. Itulah situasi yang dialami oleh Abraham dan Sara.
Reaksi Sara terhadap janji Allah pertama-tama adalah tidak percaya dan merasa dipermainkan, oleh sebab itu dia tertawa ketika mendengar pernyataan ketiga tamu Abraham. Namun Tuhan setia dalam segala hal. Janji memberikan keturunan yang banyak dilaksanakan melalui anaknya, Ishak. Sekalipun Abraham tahu bahwa Allah setia terhadap janji-janjinya, namun, tertawanya Sara, menunjukkan keraguannya bahwa Allah akan melaksanakan mujizat yang sedemikian itu.
Sikap Sara ini sering sekali menjadi sikap kita di zaman sekarang. Sangatlah sulit untuk mempercayai sesuatu hal yang tidak masuk akal. Menertawakan janji Allah di zaman yang serba sulit sekarang sangatlah mungkin. Pergumulan hidup yang datang silih berganti, penderitaan yang menekan, dan berbagai kesesakan hidup lainnya, bisa mengakibatkan krisis kepercayaan terhadap Allah. Namun, walau-bagaimanapun keadaan yang kita alami, janji Allah tidak akan pernah berubah, karena Allah tidak akan berubah. Oleh sebab itu, jangan pernah menutup diri terhadap setiap karya Allah, biarkanlah Allah berkarya seluas-luasnya dalam hidup Anda dan percayalah akan janji-janjiNya dalam hidup Anda. (mads)


Tuhan selalu setia menepati janji-janjiNya dengan caraNya sendiri

Roma 5:3-8 (Kamis, 5 Juni)

Paulus menyebutkan berkat-berkat dari pembenaran untuk meyakinkan pembaca suratnya bahwa pembenaran kita bukan hanya sekadar jaminan dari sorga, tetapi juga merupakan sumber berkat yang kita nikmati di dunia dan pada saat ini juga.
  1. Ay. 3: Setelah Paulus berbicara tentang hal yang indah-indah dari hasil pembenaran, sekarang apa yang Paulus bicarakan di ayat ini?
  2. Ay. 3-5: Sebutkan 3 alasan mengapa kita dapat bermegah dalam kesengsaraan kita sebagai orang percaya!
  3. Pernahkah Anda mengalami kesengsaraan? Atau pernahkah Anda memperhatikan kesengsaraan orang percaya secara umum? Apakah lewat pengalaman Anda/kenalan Anda, pada akhirnya Anda meyakini bahwa orang percaya dapat semakin tekun, tahan uji dan berpengharapan melalui kesengsaraan?
  4. Simpulkanlah dari ayat 5-8, apa yang membuat kita mampu bertekun, tahan uji, dan berpengharapan dalam menghadapi kesengsaraan?

Renungan
Lanjutan penjelasan Paulus di ayat ini memang terkesan sangat berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan bahwa kita akan menikmati kedamaian dan anugerah Allah sebagai hasil dari pembenaran yang Allah lakukan bagi kita. Kini tiba-tiba Paulus berbicara tentang hal yang tidak menyenangkan yaitu fakta adanya kesengsaraan yang akan menjadi bagian dari hidup orang-orang percaya yang sudah dibenarkan oleh Allah. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika Paulus berkata bahwa kita harus bermegah (bersukacita) dalam kesengsaraan tersebut. Namun Paulus memaparkan alasan-alasan yang kuat untuk membuat kita dapat melakukannya, bukan pura-pura bersukacita, tetapi sungguh-sungguh dapat bermegah dalam penderitaan. Penderitaan memberikan “KTP” kepada kita, yaitu: ketekunan (ketabahan), tahan uji, dan pengharapan. “KTP” akan menjadi bagian kita sebab Allah sendiri telah menyatakan kasihNya kepada kita sejak ketika kita berdosa, apalagi sekarang pada waktu kita telah dibenarkan menjadi anak-anak Allah. Tidak ada keadaan yang sanggup memisahkan kasih Allah dari kita, sebab keterpisahan yang terburuk yaitu dosa itu sendiri telah dijembatani oleh kasih Allah. Dengan demikian, kesulitan-kesulitan apa pun yang kini dihadapi orang percaya adalah bagian dari kesempatan untuk mengasah ketekunan (ketahanan/tabah) kita untuk membuktikan kualitas iman kita yang tahan uji dan semakin kuat menyongsong penggenapan pengharapan kita hidup bersama Allah dalam kerajaanNya. Dengan pemaparan Paulus kita diteguhkan bahwa penderitaan bukanlah suatu kontradiksi dengan berkat-berkat luar biasa yang Allah janjikan di ayat 1-2, sebab Allah dapat menggunakan penderitaan itu untuk mendatangkan berkat yang lebih buar biasa lagi. Apakah Anda sudah memiliki “KTP” Anda sebagai warga kerajaan Allah? Gunakanlah “KTP” Anda sebagai warga kerajaan Allah pada saat Anda menghadapi sulitnya hidup di dunia sekarang ini.

Dan lebih dari itu, kita pun gembira di dalam penderitaan, sebab kita tahu bahwa penderitaan membuat orang menjadi tekun, dan ketekunan akan membuat orang tahan uji; inilah yang menimbulkan pengharapan. (versi BIS)

Roma 5:1-2 (Rabu, 4)

Di pasal 4 Paulus berbicara mengenai pembenaran karena iman. Pada perikop ini Paulus berbicara mengenai berkat-berkat pembenaran yang kita terima dari Allah.
  1. Ay. 1: Apakah hasil pembenaran yang disebutkan di ayat ini? (bdk. dg. ay.10 a) Bagaimana Anda mengartikan ‘hidup dalam damai sejahtera’ di ayat ini?
  2. Ay. 2a: Apa lagi hasil pembenaran yang Anda temukan di ayat ini? ‘Jalan masuk kepada kasih karunia ini’: Apa yang dimaksud Paulus dengan kasih karunia (anugerah) di ayat ini? (hubungkan dengan pasal 4:5 dan 5:1)
  3. Coba Anda perhatikan, pada saat berbicara tentang kasih karunia/ anugerah, Paulus menggunakan dua kalimat yaitu ‘memperoleh jalan masuk kepada kasih karunia ini’; dan ‘berdiri dalam kasih karunia’. Apa hubungan yang bisa Anda temukan antara dua ungkapan kalimat tersebut?
  4. Ay. 2b: Apakah hasil ketiga dari pembenaran yang disebutkan Paulus di ayat ini? Bdk. dengan pasal 3:23

Renungan
Paulus menjelaskan bahwa oleh karena pembenaran yang Allah lakukan bagi manusia, maka kita yang percaya kepadaNya beroleh berkat-berkat, antara lain:
1. Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah: damai di ayat ini tidak mengacu pada perasaan batin melainkan pada keadaan yang sesungguhnya terjadi antara Allah dengan kita. Pembenaran berarti bahwa Allah menyatakan kita adalah orang benar dan ini merupakan pernyataan damai yang hanya bisa dilakukan oleh Kristus (lihat psl. 4:5). Keadaan inilah yang akhirnya mendatangkan perasaan tentram. Orang yang berupaya untuk mengerjakan pembenarannya sendiri tidak akan pernah merasakan tenang, sebab tidak ada kepastian apakah usahanya cukup untuk mendatangkan pembenaran bagi dirinya. Bagi kita yang telah dibenarkan oleh karya Yesus Kristus tidak perlu gelisah karena apa yang Yesus lakukan sudah cukup dan menjadi jaminan yang pasti.
2. Beroleh jalan masuk dan berdiri-bermegah dalam kasih karunia Allah: Kasih karunia/anugerah yang dimaksud adalah hubungan damai dengan Allah. Kita bukan hanya beroleh jalan masuk untuk menerima anugerah itu, tetapi juga berdiri dalam anugerah itu. Dengan kata lain, pernyataan Paulus mengingatkan kita bahwa prinsip hubungan anugerah ini tidak hanya terjadi dalam soal pembenaran status, tetapi juga menjadi dasar pijakan/ pondasi yang harus dipahami oleh orang percaya bahwa dalam sepanjang hidupnya ia selalu bergantung pada anugerah Allah. Dalam berbagai dimensi hidupnya: pelayanan, pekerjaan, keluarga, semuanya tidak lepas dari anugerah Allah. Dengan kata lain, setiap hari yang kita lewati adalah semata karena anugerah demi anugerah yang Allah nyatakan kepada kita. Berkat-berkat yang kita peroleh adalah dari Allah yang dalam anugerahNya telah memilih untuk memberkati kita.
3. Pengharapan menerima kemuliaan Allah: kemuliaan Allah akan dinyatakan melalui hidup kita yang telah dibenarkan oleh Allah. Ini berarti menjadi panggilan hidup orang percaya dan tidak berhenti sampai pada status menjadi ‘orang Kristen’ saja.

Berkat-berkat pembenaran Allah menjadi jaminan kekuatan kita untuk hidup sebagai orang benar di tengah-tengah ketidakbenaran

Mazmur 119: 105-120 (Selasa, 3)

Hari ini kita akan kembali melihat kehidupan pemazmur melalui ungkapan-ungkapan mazmurnya. Pergumulannya hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak semuanya percaya kepada Allah menjadi tantangan tersendiri untuk orang yang begitu mencintai firman Tuhan.
  1. Ay. 107, 109 a, 110 a, 115 a: Bagaimana situasi hidup masyarakat pada waktu itu?
  2. Ay. 113, 115, 117 b, 119 b: Apa yang menjadi ketetapan hati pemazmur?
  3. Sebutkan 2 hal yang membuat pemazmur mampu berketetapan hati demikian! Ayat 116-117 a dan ayat 120
  4. Bagaimana ketetapan hati Anda terhadap firman Tuhan di tengah-tengah situasi hidup masyarakat yang majemuk sekarang ini? Mengapa Anda memilih sikap yang demikian? Berikan alasannya!

Renungan
Pemazmur hidup di dalam masyarakat yang majemuk, ia menghadapi pembesar-pembesar yang menantang dia karena kejujuran dan sikap kritisnya. Ia juga menghadapi sesama orang percaya yang telah melupakan Taurat demi mencari kedudukan, harta, kuasa, kemajuan sehingga mereka menganut nilai-nilai yang lain daripada Taurat itu sendiri. Dalam situasi yang demikian, pemazmur tidak menjadi bimbang melainkan justru memantapkan ketetapan hatinya untuk selalu memusatkan diri pada Taurat Tuhan: tidak terpengaruh dengan yang jahat tetapi memegang perintah-perintah Tuhan (ay.115) dan pilihan sikap itu bukan dilihatnya sebagai pilihan hidup yang membebaninya, melainkan justru mendatangkan sukacita tersendiri ketika ia melakukan firman Tuhan. Bila kita mengingat kembali renungan kita kemarin mengenai pentingnya memiliki 3K terhadap firman Tuhan, maka kini kita bisa melihat perbedaan kualitas hidup antara orang yang mempunyai 3K itu dengan yang tidak, bila mereka dihadapkan pada situasi masyarakat yang majemuk dan bahkan menekan. Ketetapan hati pemazmur yang sedemikian kuat juga dibangun diatas keyakinan bahwa a) Allah selalu menopangnya dengan janji dan pengharapan bahwa orang yang berpegang pada firman Tuhan yang akan menikmati keamanan hidup yang sejati; b) hanya kepada Allah saja kita perlu takut dan menundukkan diri, bukan kepada yang lain. Dua hal ini menjadi fondasi yang kuat untuk membangun ketetapan hati pemazmur terhadap firman Tuhan. Demikian pula dengan kita sekarang, kita harus memiliki alasan/dasar yang tepat dan kuat terhadap setiap komitmen yang kita buat, khususnya dalam melakukan firman Tuhan setiap hari. Sebab jika kita hanya bertekad ini dan itu tanpa fondasi keyakinan yang kuat, kita akan mudah bimbang dengan kuatnya arus pengaruh dunia ini.

Cara seseorang memperlakukan firman Tuhan akan nampak dalam prilaku yang dihasilkan hari demi hari.

Mazmur 119: 105-112 (Senin, 2)

Mazmur 119 bukan hanya merupakan teori atau pengajaran iman Kristiani yang tersusun secara logis, melainkan juga kental dengan nuansa pengalaman hidup pemazmur itu sendiri. Selama dua hari ini kita akan secara khusus merenungkan penggalan dari Mazmur 119 ini dengan menyimak pengajaran dan pengalaman hidup pemazmur terhadap firman Tuhan.
  1. Ay. 105: Bagaimana Anda mengartikan ungkapan pemazmur di ayat ini dengan pengkalimatan Anda sendiri?
  2. Ay. 106 dan 112: Dengan dasar keyakinan pemazmur di ayat 105, bagaimana cara pemazmur memperlakukan firman Tuhan dalam hidupnya? Apa arti ayat ini bagi Anda?
  3. Ay. 108 b dan 111: Untuk bisa mewujudkan pertanyaan no.2 di atas, sikap apa yang harus Anda miliki pada ajaran dan peringatan-peringatan Tuhan?
  4. Apakah Anda sangat menyukai ayat 105 seperti kebanyakan orang lainnya yang juga sering menghafal dan mengutip ayat ini? Jika demikian, bagaimana perlakuan Anda terhadap firman Tuhan dalam Alkitab Anda selama ini? Apakah pertanyaan no.2 dan 3 juga sudah menjadi bagian yang tidak lepas dari hidup Anda?

Renungan
Keyakinan pemazmur terhadap firman Tuhan diungkapkan dengan pelita dan terang bagi jalan seseorang. Bila orang berjalan tanpa ada penerangan maka orang itu akan mudah sekali jatuh dan tersesat. Demikian pula bila kita menjalani hidup tanpa firman Tuhan, kita akan menjadi orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup sebab mudah terjatuh di sana-sini karena godaan di sana-sini. Begitu kuatnya keyakinan pemazmur terhadap pentingnya firman Tuhan dalam hidupnya sehingga ia memiliki keteguhan hati untuk terus mengarahkan hati pada firman Tuhan, berpegang untuk selamanya dalam hidupnya. Pemazmur tidak hanya menunjukkan kepada kita akan keyakinan dan keteguhannya, tetapi juga sikap hidup yang muncul sebagai bentuk konsekuensi logisnya adalah kebutuhan yang besar untuk terus diisi oleh firman Tuhan, terus belajar firman Tuhan dan saat-saat itu adalah saat yang membuatnya girang. Firman Tuhan, dalam arti ajaran, tuntunan dan teguran/peringatan-peringatanNya, semuanya adalah kegirangan bagi pemazmur. Keyakinan, keteguhan, dan kebutuhan akan firman Tuhan menjadi satu paket yang tidak terpisahkan dalam diri pemazmur dan seharusnya demikian pula dengan kita sekarang. Seseorang tidak mungkin dapat memiliki keyakinan dan keteguhan hati (komitmen) pada firman Tuhan, bila ia sendiri tidak pernah merasa membutuhkan firman Tuhan, tidak merasa senang belajar firman Tuhan, apalagi ditegur oleh firman Tuhan. Sebaliknya, seseorang hanya akan dapat mencintai dan membutuhkan firman Tuhan setiap hari bila ia mempunyai keyakinan yang kuat akan pentingnya firman Tuhan dan itu akan melahirkan keteguhan hati untuk setia pada firmanNya seumur hidupnya. Mari miliki ketiganya (3K) sebagai 1 paket perlakuan yang tepat pada firman Tuhan kita Yesus Kristus: Keyakinan, Keteguhan hati/komitmen, dan kebutuhan.

Firman-Mu adalah lampu yang menerangi jalanku supaya aku jangan jatuh (versi FAYH)